You will almost always fails a leap of faith

You will almost always fails a leap of faith… if you think the leap will be like this

Leap of faith mis

Sori banget gambar gw super jelek haha. Emang ga bakat gambar dari kecil (curcol).

Well,  I can say leap of faith jarang sekali seperti gambar di atas. Gambar di atas seolah-olah menunjukkan bahwa untuk melakukan leap of faith, dimana kita bersiap diri (lari kenceng2) dan lompat, lalu HUP melompatlah kita. Hasilnya langsung keliatan, kemungkinan : 1) sampe ke tempat yang dituju (mencapai mimpi, apa yang diinginkan, dll), atau 2) terjun ke jurang, gagal. Dengan kata lain, ini Leap of Faith yang pendek.

Leap of faith is not that short, in fact leap of faith is something like this:

Leap of faith new_01

yah lagi-lagi gambar super jelek.

Jaraknya panjang, jadi ga bisa langsung lompat trus HUP sampe. Gambar kedua dimulai dengan Fall of Faith, dimulai dengan kejatuhan, terjerembab ke hutan yang kita ga tahu apa. Kadang, sangking lebatnya hutan tersebut, kita tidak bisa lihat matahari, hilang orientasi arah, bahkan tujuan menjadi tidak kelihatan. Kita harus tersesat di hutan, jatuh, terjerembab ke lumpur, basah2an, berjalan tanpa tujuan. plus, semua serba asing.

Ada kemungkinan kita tersesat selamanya, ga pernah sampe tujuan. But that’s the risk, and that will be a good story to tell to your children, right? haha. Cerita sukses kan justru serunya ya pas di part ini.

Dengan keberuntungan dan restu dari yang Maha Kuasa, semakin kita jalan, lama-lama matahari mulai keliatan. Lama2 tujuan mulai terlihat. Pelan2 semua jadi tidak asing, kita mulai terbiasa dengan cahaya di hutan, dengan udara yang lembab, dengan jalan yang tidak rata. Apakah perjalanan sudah selesai? Belum. Perjalanan masih panjang.

Setelah lewat hutan, masih banyak jurang kecil yang harus di akali, masih banyak batu yang harus diputari / dipanjat. Dan mungkin terakhir masih harus manjat tebing super tinggi untuk kembali ke atas (sampai ke tujuan) seperti digambarkan garis merah.

Kalau kita masih berpikir leap of faith yang pendek, mungkin rasanya kita seperti jatuh ke jurang yang dalam, alias gagal. Padahal sebenernya bukan gagal, tapi yah memang begitu jalannya, memang panjang, memang harus susah terlebih dahulu, memang harus dimulai dari kejatuhan dan tersesat.

So, when you take the leap of faith, don’t expect quick result, don’t expect comfort. It’s a long journey. I am in one, without knowing if I will ever reach the other end. But I believe all of this is necessary if you want to get where you want to be. Again, don’t expect quick result, don’t expect comfort.

(tambahan)

* and remember, you might get lost in the middle without ever going out

Advertisements

Esensi Kepercayaan

Beberapa hari lalu, gw nyari seragam untuk keperluan bank (bokap) gw ke pasar pagi mangga dua. Gw sampe sana jam 3an, trus jam 5an pulang ke rumah karena tokonya pada tutup jam segitu.

Pada saat jalan pulang, gw duduk di sisi penumpang, sedangkan kakak gw yang menyetir.

Ternyata oh ternyata, pulang jam 5 dari mangga dua ke pluit (jaraknya sekitar 9 km total uda pake belok2), itu macetnya super neraka. Total gw menghabiskan 2 jam di jalan.

Nah ada satu jalan yang kita lewati namanya jalan lodan. Bagi yang belum tahu, jalan lodan adalah jalan yang sangat padat, dan padatnya itu karena truk-truk container ukuran super ga santai. Jadi, kalau mobil gw sedan honda gitu ketabrak container dikit aja, bisa berbahaya banget.

Nah, pas gw lewat jalan itu, macetnya parah banget. Tapi karena gw ga nyetir, akhirnya gw maen game di HP. Ketika gw maen game, kadang sempet ngelirik2 depan, belakang, kanan (arah berlawanan), isinya container semua. Satu perasaan yang muncul, SEREM BANGET.

Tapi then perasaan serem itu tak bertahan lama, karena gw percaya sama kakak gw si penyetir, bahwa dia tetap akan membawa mobil ini selamat sampai ke tujuan.

Dalam cerita ini, ada satu hal yang ingin gw bahas. Hal tersebut adalah ketika kondisi menjadi SERAM, TAPI ada satu orang yang bisa DIPERCAYA membawa kita sampai ke tujuan, maka sebetulnya perasaan seram itu takkan bertahan lama.

Kalo dipikir2, mungkin sama kaya hidup ini. Buat gw, hidup ini penuh dengan keseraman kalau dipikirkan baik-baik. Keseraman dalam fase hidup gw skrg, banyak berupa kekhawatiran. Khawatir gimana kalau gw ga bisa hidup mandiri dan cari duit sendiri, khawatir tidak usaha gagal, khawatir bagaimana kalau nanti mentok di pekerjaan, khawatir tidak mendapat pasangan hidup yang ideal, sekalinya sudah dapat nanti malah khawatir tak bisa menahan godaan dari wanita lain, khawatir ga bisa didik anak, pokoknya khawatir masa depan.

Buat sebagian orang lain, keseraman hidup dapat muncul dari hutang, dari persahabatan, dari masalah cinta, masalah uang, dan masih banyak lainnya.

Dan hidup akan menjadi proses yang menakutkan jika kita berpikir seperti itu.

Gw jadi kepikiran, sama seperti seramnya jalan lodan yang hilang ketika saya mempercayai si pengendara, mungkin seramnya jalan kehidupan juga akan hilang seketika jika kita percaya kepada pengendara hidup kita, bahwa Ia akan membawa kita selamat sampai ketujuan.

Pengendara hidup bisa dipanggil dalam banyak nama, tetapi sesungguhnya satu rupa. Ia dapat bermanifestasi dalam sebutan Tuhan, Allah, Yang di Atas, Yang tidak Kelihatan, Moral, atau Karma sekalipun.

Nah, menurut gw, KEPERCAYAAN tidak dapat hadir begitu saja. Kalau hari ini anda tidak percaya Tuhan, tak mungkin tanpa angin tanpa hujan terus jadi percaya.

Melihat pengalaman macet2an tadi, apa sih yang membuat gw percaya kepada kakak gw sendiri di setir kemudi? kalau dipikir2, mungkin ini alasannya:

1. Dia sudah lebih dari 5 tahun menyetir mobil

2. Gw sudah seringkali ikut dia, tanpa pernah kecelakaan sedikitpun, seperti apapun kondisi jalannya

3. Memang tidak ada pilihan lain, kecuali membiarkan dia menyetir. Gw sudah cape banget muter2 jakarta seharian, kalau gw yang nyetir malah bahaya.

4. Gw sambil main game, jadi perhatian teralihkan fokusnya kepada sesuatu yang mengasikkan.

Mungkin sama ya dalam hidup ini, bagaimana anda bisa percaya kepada di “pengendara” (Tuhan, Allah, Moral, Karma). Anda akan percaya jika

1. Dia telah ribuan tahun mengatur kehidupan yang tak terhitung jumlahnya

2. Dalam mengatur kehidupan, Ia tak pernah salah sekalipun (ketidakadilan, “kecelakaan”, dll)

3. Anda memang tidak punya pilihan

4. Anda fokus tidak pada masalah hidup, tapi pada sisi enjoyable dalam hidup. Menikmati perjuangan bisa jadi salah satunya.

Jadi, teorinya, jika ingin menikmati hidup ini, punyalah satu hal yang anda PERCAYA sebagai pengendara, yang anda nyaman menyerahkan nasib anda kepada dia.

Kalau belum punya yang dapat dipercaya, bagaimana? yah balik ke komponen-komponen pembentuk kepercayaan.

1. Pilihlah yang sudah berpengalaman. Artinya, pilih saja apa yang sudah ada, jangan bikin dewa baru.

2. Pilihlah yang sudah terbukti, Tuhan, Karma, Moralitas, sudah terbukti (itu semua satu esensi, tapi beda gaya. Nah boleh pilih mau gaya apa). Jangan tiba2 besok nyembah pohon mangga depan rumah. Kalau belum percaya kepada esensi yang dipilih, misalnya Tuhan, ya sudah cobalah hidup dalam Tuhan, dan buktikan sendiri. Proses ini mungkin lama, tapi worth taking.

3. Toh anda ga bisa menyetir sendiri kehidupan anda. Bagaimanapun kita mencoba mendesain hidup ini, selalu ada tikungan-tikungan tak terduga yang bisa merubah arah hidup selamanya. Menurut gw, hidup ini banyak ditentukan oleh “kebetulan-kebetulan” kecil. Kebetulan ketemu si Anu, kebetulan memilih pergi ke tempat ini dari pada ke situ, kebetulan ikut organisasi ini, dll.

4. Fokuslah pada sisi menyenangkan dalam hidup.

believe-3

 

Susah? emang susah, everything worth doing is never easy. Sekarang gw bisa kaya begitu? Engga. Bisa diusahakan? Bisa.

Sama seperti orang telah melihat luar angkasa sebelum beneran pergi ke luar angkasa. Kita telah melihat kehidupan di mars, walau skrg mungkin belum bisa kesana.

Lifeline Nonlinearity

Akhir2 ini saya sedang suka bermain game di android yang namanya Beach Buggy Blitz, game gratis yang gameplaynya lumayan seru.

Beach Buggy Blitz adalah game mengendarai mobil di pantai. Beda dengan lomba mobil, dalam game ini pemain tidak berlomba dengan pemain lain atau komputer, melainkan berlomba dengan waktu.

Pemain diberikan 30 detik sebagai modal awal, lalu sepanjang permainan akan ada checkpoint dimana setiap melewati garis tersebut pemain akan mendapatkan tambahan waktu.

Sepanjang permainan, ada koin-koin yang tersebar di jalan. Koin ini dapat di ambil, dikumpulkan, untuk kemudian dibelikan barang-barang untuk membantu pemain dalam permainan.

Sepanjang jalan akan ada banyak halangan, rintangan, belokan, yang dapat memperlambat pemain mencapai checkpoint.

Permainan selesai jika waktu yang diberikan habis (alias telat mencapai checkpoint).

Skor permainan ini ditentukan berdasarkan dua hal, yaitu jarak yang ditempuh dan koin yang diperoleh. Semakin jauh jarak yang bisa ditempuh sebelum waktunya habis, dan semakin banyak koin yang dapat diperoleh, maka skornya akan semakin tinggi.

Nah, saya sudah bermain 334 permainan dan menghabiskan 21 jam lebih dengan game ini. Saya sudah melewati cukup banyak dinamika dan variasi yang ada dalam permainan ini.

Kadang saat awal permainan, saya sudah menabrak begitu macam halangan, mulai dari nabrak pohon, rumah, binatang, mobil lain. Wah rasanya pengen restart aja. Pikiran saya, awalnya aja begini, apalagi akhirnya. Sering saya restart jika sudah bgitu. “Hoki game kali ini pasti jelek”, begitu pikiran saya.

Tapi kadang adakalanya saya lanjutkan saya, bermodal pikiran “ya sudah lah lanjutkan saja, toh ga ada ruginya, dr pd ngulang2 trus malah duit yang udah kekumpul langsung hangus”.

Menariknya, banyak sekali penciptaan rekor-rekor baru dalam skor, jarak, maupun koin saya raih justru ketika awalnya jelek, sering tabrak2. Dan itu bukan hanya satu kali.

Malah justru yang awalnya bagus (tanpa nabrak, super lancar) biasanya berakhir biasa-biasa saja, berakhir dengan skor rata-rata.

Saya jadi berpikir, bahwa mungkin memang benar kata orang “awal tidak menentukan akhir”. Awal yang buruk tidak selalu mendatangkan akhir yang buruk, begitu juga sebaliknya.

Saya jadi ingat pengalaman saya sendiri. Ketika saya SMA, nilai saya hancur-hancuran. Setiap pulang sekolah langsung adu lari ke warnet paling cepat supaya tidak kehabisan komputer. Bukan awal yang baik memulai perjalanan pendidikan di SMA. Tapi banyak hal terjadi di tengah jalan. Bertemu orang yang tepat di tengah jalan, inspirasi tiba-tiba menampakan diri lewat sharing, kegiatan, dll. Akhirnya saya masuk UI juga. Sebuah akhir yang buat saya sudah lebih dari cukup untuk mengakhiri masa SMA.

Begitupun dengan kuliah. Mulai dengan mahasiswa ga aktif, habis selesai kuliah ya langsung pulang. Males ikut kegiatan. Giliran daftar kepanitiaan, temen-temen lain diterima eh saya ditolak sendirian. Asem. Sudah seperti itu, IP paling rendah pula dari peer group waktu itu. Makin asem.

Tapi lumayan lah, di saat semester makin tinggi orang lain IP nya makin turun, eh gw makin naik. Naiknya lumayan tajem lagi. Dah itu tiba2 bisa ikut JGTC, yang berkontribusi sangat besar terhadap acceptance gw di McK.

Kuliah diakhiri dengan top 15 IP tertinggi, dan diterima di McKinsey. A very good ending.

Jadi makin sadar, bahwa kehidupan itu tidak linear sama sekali. Awal tidak menentukan akhir. Jadi kalau hidup sekarang sedang susah, bukan berarti itu akan susah selamanya. Jangan lupa, masih ada harapan perubahan. Akan banyak variabel baru dalam kehidupan yang akan muncul di masa depan, dan sangat mungkin variabel itu akan merubah nasib besar-besaran. Saya pun sekarang masih berharap kepada variabel-variabel tersebut.

Dan ini juga jadi pengingat, supaya ketika (atau sekarang) nasib sedang bagus, bahwa itu bisa berubah dalam sekejap, melalui variabel baru yang sama. Jadi kalau nasib sedang bagus, mungkin memang harus banyak berdoa dan membantu sesama, supaya rezeki itu dijaga oleh yang Maha Kuasa.

Elbert
Pluit
19.44

Random Thought – remote mobil yang membutuhkan ekpresi

Saya mempunyai Honda Jazz yang sudah berumur delapan tahun di rumah. Mobil itu saya pakai pada awal kuliah, dan akhir2  ini saya pakai kembali setelah sempat bertukar mobil lain. Selayaknya mobil, kuncinya menggunakan remote sehingga memudahkan pengendaranya.

Nah, remote mobil saya ini umurnya sudah setua mobilnya, sehingga mulai rusak sana sini. Tapi ada satu kerusakan yang unik, yaitu tombol lock/unlock nya udah rusak sehingga agak susah ditekan. Ditekan berkali-kali belum tentu mobil saya kekunci / kebuka.

Nah, setelah beberapa minggu berkutat dengan tombol tersebut (yes, saya terlalu malas untuk memperbaiki), saya ktemu jurus jitu untuk membuat tombol tersebut sekali tekan langsung bekerja. Bagaimana caranya? Tekanlah dengan ekspresi.

Ekpresi yang dibutuhkan adalah dengan badan sedikit membungkuk, mata ditutup, mulut sedikit dimiringkan, wajah seolah-olah sedang menekan sesuatu yang berat. Mungkin agak mirip seperti orang ngeden ketika BAB hehe cuman badannya agak sedikit membungkuk saja.

Entah mengapa, setiap saya menekan dengan ekspresi tersebut, tombolnya sekali tekan langsung bekerja. Haha super random.

Yah, mungkin memang ekspresi itu bukan hanya ada di muka, tapi lebih luas pengaruhnya dari pada yang kita pikirkan. Ekpresi bisa “memperbaiki” sesuatu. Mungkin tombol kunci ini mau bilang “tunjukkin ekpresi lu…”

Inefisiensi Pasar Tempat Duduk

Seperti kebanyakan umat Katolik pada umumnya, pada hari minggu kemaren gw dateng ke gereja. Hari itu adalah hari Minggu Palma, sebuah tradisi gereja Katolik merayakan kedatangan Yesus di Yerusalem dengan lautan manusia melambaikan daun palma. Hal ini dirayakan selalu satu minggu sebelum Paskah.

Hari raya minggu palma biasa dihadiri lebih banyak orang dari pada hari minggu biasa.

Gw waktu itu dateng telat (ups), dan langsung menuju lantai dua gereja karena lantai satunya “pasti” sudah penuh. Plus ga enak kalo mondar mandir di lantai 1 nyari tempat duduk, ga enak diliat pasturnya (hehe). Nah gw menemukan hal yang menarik ketika gw masuk ke lantai 2.

Waktu itu suasananya tempat duduk terlihat penuh tanpa sisa, dengan beberapa orang (sekitar 10-15 orang) terlihat berdiri. Beberapa orang yang masuk bersama saya juga terlihat langsung mengambil spot berdiri paling enak menurut mereka. Jadi, kesimpulan paling logis kalau melihat kondisinya adalah “oh, sudah tidak ada tempat duduk lagi, sudah penuh, orang lain sampai berdiri gini”. Biasanya saya juga langsung ikutan berdiri kalau sudah gitu.

Tapi hari itu, entah mengapa walaupun disuguhkan kondisi seperti itu, gw tetap memutuskan nyari tempat duduk (biar keliatan mistis. sebenernya gw tau kenapa : gw pake sepatu yang ga enak buat berdiri hari itu, jd gw kekeuh ga mau berdiri, maunya duduk. Kalo berdiri, bisa pegel setengah mati hehe).

Ternyata, walaupun orang udah pada berdiri, sebenernya tempat duduk itu masih ada BANYAK (masih ada 10an waktu itu), cuman keliatannya aja tersembunyi. Gw pun akhirnya dapet satu tempat duduk, tempat duduk paling pertama yang gw temukan. Lumayanlah, tempat duduknya bukan posisi dan jenis kursi yang paling nyaman, tapi paling engga dapet tempat. Dari pengalaman ini, gw jadi mikir, sebenernya ada 4 tipe orang di gereja ini:

  1. Orang jenis pertama adalah orang yang masuk, trus lihat orang lain pada berdiri langsung menyimpulkan “oh, udah penuh. ya udah gw ikut berdiri deh”.
  2. Orang jenis kedua adalah orang yang masuk, lihat orang lain berdiri, langsung ikutan berdiri tanpa berusaha nyari tempat duduk. Yah mirip2 orang pertama gitu lah. Bedanya, kalau ada petugas gereja lambai2kan tangan ngasih tanda bahwa masih ada tempat duduk kosong, dia langsung tanggap dan langsung bergegas menghampiri si petugas gereja, menagih tempat duduk yang dijanjikan. Mungkin muncul pertanyaan “Loh, emang orang pertama kalo dikasi tau ada tempat duduk, mereka tetep berdiri gituh?”. Jawabannya, IYA, ada kok orang yang begitu, banyak. Walaupun dikasih tau ada tempat duduk tetep aja mereka sudah “nyaman” dengan “penderitaannya (baca: berdiri)”
  3. Orang ketiga adalah orang yang masuk gereja, lihat sekilas seperti sudah penuh, tapi tetap berusaha nyari tempat duduk berbekal pikiran “yah kali aja hoki”. Begitu ketemu tempat duduk, se ga nyaman apapun posisinya langsung didudukin. Karena pikirannya “tempat udah penuh, udah ga ada tempat duduk, uda hoki gw nemu satu”. Gw termasuk di kelas ini. Akhirnya lumayan bagus, dapet tempat duduk, walaupun ga paling nyaman.
  4. Ternyata ada juga orang ke empat, yang walaupun gereja udah penuh, orang ini tetep gigih nyari tempat duduk yang paling wuenak (PW). Orang ini orang yang yakin walaupun keliatan penuh, tapi dia tau masih ada tempat duduk yang PW.

Gw jd mikir, mungkin sama dengan hidup ini. Tinggal ganti saja “masuk gereja” dengan “tantangan”, “sudah penuh” dengan “tak ada harapan”, “tempat duduk” dengan “kesempatan/harapan”, dan posisi “duduk” sebagai “kesuksesan”. haha

Buat anak ekonomi yang pernah belajar inefisiensi pasar, bisa disimpulkan: semua pasar itu ga efisien, sebut saja pasar modal, pasar pencarian tempat duduk di tempat ibadah, mungkin termasuk juga pasar jodoh dan pasar kesuksesan.

Ah, just another random thought.

*Tambahan : pasar jodoh itu ga efisien, jd jgn pernah mikir “aduh cewe cantik mah uda pasti di ambil cowo ganteng”. Tenang, walaupun muka lu jelek, masih bisa dapet cewe cantik kok :p haha tapi inget, cari jodoh jgn cuman dari muka ya (pesan sponsor)

 

Elbert Ludica Toha

27 Maret 2013

Tangerang

Maybe, Life is like All-You-Can-Eat Restaurant

Gara gara di traktir makan all you can eat, gw jadi punya random thought.

Mungkin sebenernya hidup ini kaya restoran all you can eat kali yah.

Kita bayar sebuah harga, and then kita boleh makan sepuasnya. Sama kaya manusia, asal kita berani bayar “harganya” (baca: usaha), kita bisa memperoleh semua yang ada di dunia ini.

Dulu waktu SMA gw kalo makan all you can eat, mentalnya mental ga-mau-rugi. Dulu hanamasa masih Rp80k kalo ga salah. Nah dengan Rp80k gw akan ambil sebanyak mungkin gw bisa. Ambil daging sebanyak-banyaknya, ambil dessert sebanyak-banyaknya. Hasilnya bisa ditebak, tiap pulang dari hanamasa duh rasanya mau meledak, jalan aja susah. Ga muntah sudah untung. Tiap sehabis piring terakhir, gw selalu diem supaya makanan yang udah masuk ga keluar lagi gara2 kebanyakan gerak atau ketawa.

Gw ga tau dengan makan seperti itu hanamasanya beneran rugi atau kaga. Rasanya sih dia ga mungkin rugi. Kita coba bayangin aja deh, gw makan daging sapi. Kalo diitung pake harga sekarang aja (yang lagi tinggi ga karuan), Rp80k itu adalah ongkos hanamasa beli daging sapi sekilo. Gw mikir ga mungkin banget gw makan daging sekilo. Makan 400 gram aja kenyangnya uda bukan main itu. Jadi kalo dipikir2 sekilas, hanamasanya ga mungkin rugi. Palingan keuntungan dia aja menipis, tapi apa sih artinya buat hanamasa ada satu orang makan kaya org kelaperan gila, penipisan untung itu ga seberapa.

Tapi apa yang gw dapet? Kenyang hampir muntah, selalu. Penyebabnya? Rakus, ga bisa lihat orang lain seneng (baca: hanamasa untung).

Gw akhirnya belajar bahwa kekenyangan sampai mau muntah itu bukan perasaan yang menyenangkan. Nahan muntah itu menderita. So, gw harus merubah mind set gw. Sekarang, kalo ke restoran all you can eat, gw mau mau pake mental ga-mau-rugi lagi, karena justru pemikiran seperti itu yang membuat gw merugi.

Gw mulai mencoba makan secukupnya, sampai agak kenyang lalu gw berenti makan main dish dan pindah ke dessert. Hasilnya setelah dessert cuman sampai “lumayan kenyang”. Dan ternyata, kondisi lumayan kenyang ini yang paling enak. Mungkin restorannya untungnya relatif lebih tebel karena gw makan relatif lebih sedikit dari kapasitas maksimum perut gw, tapi ternyata voila! Kondisi lumayan kenyang ini memberikan gw kepuasan yang paling tinggi, “utilitas maksimum” kalau bahasa anak ekonomi. Perut enak, masih bisa santai2 ketawa2 karena ga nahan muntah lagi, jalan pulang juga enak.

Gw mulai belajar berkata “cukup” setiap kali makan di restoran all you can eat, dan ternyata mampu berkata cukup itu enak.

Jadi mikir, mungkin hidup juga gitu, mungkin pada suatu level, kita harus mampu berkata cukup. Bukan berarti tidak boleh bermimpi atau berambisi besar. Mungkin bisa di analogikan mimpi itu seperti ukuran perut. Ada orang yang emang perutnya muat sedikit, ada yang muat banyak. Tapi orang dengan perut sebesar apapun, akan ada tingkat kekenyangan maksimal dimana setelah itu ia akan muntah. Sama dengan mimpi, seberapa tinggi pun mimpi seseorang, akan ada tingkatan dimana ia harus berkata cukup, sebelum ia jadi tak bisa “tertawa” dalam hidup ini karena takut apa yang sudah “masuk” akan “keluar” lagi, sama halnya ketika saya jd tak bisa bersenda gurau dengan teman akibat menahan muntah.

Yah, just a random thought.

Passion is… Well, I Don’t Know

Indonesia sekarang mulai mengadopsi “American Dream”, yang katanya kita bisa menjadi apa saja selama kita punya kemauan dan usaha yang keras, yang disertai dengan PASSION.

Kata orang, PASSION adalah sebuah pekerjaan yang kita cinta mengerjakannya. Katanya, PASSION adalah sesuatu yang membuat kita bersemangat setiap hari, yang kita suka mengerjakannya sehingga kita selalu mencurahkan segala energi dan perhatian ke dalamnya, dimana kita mengejar ‘perfection’, dan pada akhirnya bahkan kita pun bersedia melakukannya tanpa dibayar.

Kata orang, dengan passion, kita menjadi “terbaik”, sehingga apapun yang kita hasilkan menjadi baik.

I used to believe this, but I started to think again, is it true? is american dream true? What is passion?

It all started ketika saya melihat2 youtube musicians, yaitu orang-orang yang jago dalam hal bernyanyi atau memainkan alat musik yang bisa membuat banyak orang berdecak kagum, entah karena keahliannya, karena keunikannya, atau karena keindahannya. Saya lihat mereka sangat menjiwai apa yang mereka kerjakan, dan sudah tak perlu diragukan lagi keahliannya.

Semua hal ini memenuhi 3 kriteria passion menurut saya:

1. Mereka menciantai apa yang mereka kerjakan

2. Mereka ahli di bidangnya

3. Mereka bermanfaat bagi orang banyak (menghibur dan memperlihatkan keindahan)

Saya jadi berpikir “enak sekali mereka yang sudah jelas bakatnya di bidang apa, sehingga bisa mudah menemukan passionnya, sudah jelas jalannya kemana, sedangkan saya?”

Ya, saya adalah termasuk orang-orang yang passionnya tidak (belum) jelas, dan tidak gampang menemukan passion, itupun jika ada. Saya yakin banyak di dunia ini orang yang passionnya ga jelas, ya persis kaya saya ini. Tidak punya keahlian spesifik yang konkret, ditanya sukanya ngapain juga ga ngerti, paling banter jawabnya maen komputer. Kalaupun ditanya mau jadi apa, cuman bisa jawab jadi pengusaha. Ditanya mau usaha bidang apa, juga ga bisa jawab.

Saya jadi berpikir, yah mungkin konsep “finding your passion” itu terlalu muluk, atau terlalu tinggi, terlalu utopis. Mungkin hal yang betul2 kita cintai untuk kerjakan itu sebenernya ga pernah ada. Ga pernah ada kerjaan yang sempurna, ga ada satupun pekerjaan di dunia ini yang kita selalu cinta mengerjakannya. Saya jadi berpikir2 mungkin konsep passion buat saya harus agak “direndahkan” sedikit.

Buat saya sekarang, saya ga muluk nyari pekerjaan apa yang bisa saya cintai, cukup yang cukup2 saja.

Pekerjaan tidak perlu membuat saya bangun pagi dengan semangat membara. Pekerjaan itu passion cukup jika saya tidak bangun pagi dengan perasaan menderita harus kerja.

Pekerjaan itu passion cukup buat saya jika saya tidak membenci hari senin, dan tidak mencintai hari jumat sabtu minggu terlalu berlebihan.

Pekerjaan tidak harus membuat saya jadi orang yang perfeksionis. Pekerjaan itu passion cukup jika bisa membuat saya bertahan walau dalam masa sulit (walaupun pake ngeluh), dan terus membuat saya penasaran utk nyoba hal/cara baru untuk mengatasinya.

Tak perlu saya bersedia untuk melakukan pekerjaan tanpa dibayar, buat saya itu bodoh namanya. Pekerjaan ya dilakukan untuk dibayar, emangnya beli makanan kaga pake uang? Tapi pekerjaan itu cukup jika uang tidak menjadi fokus pengambilan keputusan, disertai perasaan puas dan tidak kekurangan.

Passion tidak perlu membuat saya menjalani hidup dengan super optimis, cukuplah membuat hidup tanpa disertai derita berlebihan yang tak perlu. Saya tak lagi mencari jenis usaha yang merupakan passion, udah lah usaha aja apa yang ga bikin derita yang ga perlu (derita yang “ga perlu” loh ya, sedangkan di dunia ini banyak sekali derita yang ‘perlu’, apalagi semakin tinggi cita2, derita yang ‘perlu’ juga makin banyak, berat, dan kompleks).

Derita apa sih yang ‘ga perlu’? Derita yang seperi ini:

1. Bangun pagi dengan perasaan tertekan atas pekerjaan. Bangun aja udah tertekan, ini derita yang tidak perlu.

2. Membenci hari senin, dan menggerutu setiap minggu sore “duh besok senin lagi”. Senin kok dibenci, ga perlu.

3. Jika saya kena masalah dikit lgsg kehilangan semangat mencoba (yah ada faktor orangnya juga sih yang ini), itu juga bukan passion. Dikit2 lgsg nyerah, ini ke depannya juga akan menimbulkan derita yang ga perlu.

4. Jika sudah dibayar mahal pun, masih menggerutu setiap (hari) ktemu orang “duh, kerjaan gw….”. apalagi ini, menderita amet tiap hari ngeluh.

All this is just a random thought, from a man who has not yet discovered his passion, let alone if it really exists.

Elbert