Esensi Kepercayaan

Beberapa hari lalu, gw nyari seragam untuk keperluan bank (bokap) gw ke pasar pagi mangga dua. Gw sampe sana jam 3an, trus jam 5an pulang ke rumah karena tokonya pada tutup jam segitu.

Pada saat jalan pulang, gw duduk di sisi penumpang, sedangkan kakak gw yang menyetir.

Ternyata oh ternyata, pulang jam 5 dari mangga dua ke pluit (jaraknya sekitar 9 km total uda pake belok2), itu macetnya super neraka. Total gw menghabiskan 2 jam di jalan.

Nah ada satu jalan yang kita lewati namanya jalan lodan. Bagi yang belum tahu, jalan lodan adalah jalan yang sangat padat, dan padatnya itu karena truk-truk container ukuran super ga santai. Jadi, kalau mobil gw sedan honda gitu ketabrak container dikit aja, bisa berbahaya banget.

Nah, pas gw lewat jalan itu, macetnya parah banget. Tapi karena gw ga nyetir, akhirnya gw maen game di HP. Ketika gw maen game, kadang sempet ngelirik2 depan, belakang, kanan (arah berlawanan), isinya container semua. Satu perasaan yang muncul, SEREM BANGET.

Tapi then perasaan serem itu tak bertahan lama, karena gw percaya sama kakak gw si penyetir, bahwa dia tetap akan membawa mobil ini selamat sampai ke tujuan.

Dalam cerita ini, ada satu hal yang ingin gw bahas. Hal tersebut adalah ketika kondisi menjadi SERAM, TAPI ada satu orang yang bisa DIPERCAYA membawa kita sampai ke tujuan, maka sebetulnya perasaan seram itu takkan bertahan lama.

Kalo dipikir2, mungkin sama kaya hidup ini. Buat gw, hidup ini penuh dengan keseraman kalau dipikirkan baik-baik. Keseraman dalam fase hidup gw skrg, banyak berupa kekhawatiran. Khawatir gimana kalau gw ga bisa hidup mandiri dan cari duit sendiri, khawatir tidak usaha gagal, khawatir bagaimana kalau nanti mentok di pekerjaan, khawatir tidak mendapat pasangan hidup yang ideal, sekalinya sudah dapat nanti malah khawatir tak bisa menahan godaan dari wanita lain, khawatir ga bisa didik anak, pokoknya khawatir masa depan.

Buat sebagian orang lain, keseraman hidup dapat muncul dari hutang, dari persahabatan, dari masalah cinta, masalah uang, dan masih banyak lainnya.

Dan hidup akan menjadi proses yang menakutkan jika kita berpikir seperti itu.

Gw jadi kepikiran, sama seperti seramnya jalan lodan yang hilang ketika saya mempercayai si pengendara, mungkin seramnya jalan kehidupan juga akan hilang seketika jika kita percaya kepada pengendara hidup kita, bahwa Ia akan membawa kita selamat sampai ketujuan.

Pengendara hidup bisa dipanggil dalam banyak nama, tetapi sesungguhnya satu rupa. Ia dapat bermanifestasi dalam sebutan Tuhan, Allah, Yang di Atas, Yang tidak Kelihatan, Moral, atau Karma sekalipun.

Nah, menurut gw, KEPERCAYAAN tidak dapat hadir begitu saja. Kalau hari ini anda tidak percaya Tuhan, tak mungkin tanpa angin tanpa hujan terus jadi percaya.

Melihat pengalaman macet2an tadi, apa sih yang membuat gw percaya kepada kakak gw sendiri di setir kemudi? kalau dipikir2, mungkin ini alasannya:

1. Dia sudah lebih dari 5 tahun menyetir mobil

2. Gw sudah seringkali ikut dia, tanpa pernah kecelakaan sedikitpun, seperti apapun kondisi jalannya

3. Memang tidak ada pilihan lain, kecuali membiarkan dia menyetir. Gw sudah cape banget muter2 jakarta seharian, kalau gw yang nyetir malah bahaya.

4. Gw sambil main game, jadi perhatian teralihkan fokusnya kepada sesuatu yang mengasikkan.

Mungkin sama ya dalam hidup ini, bagaimana anda bisa percaya kepada di “pengendara” (Tuhan, Allah, Moral, Karma). Anda akan percaya jika

1. Dia telah ribuan tahun mengatur kehidupan yang tak terhitung jumlahnya

2. Dalam mengatur kehidupan, Ia tak pernah salah sekalipun (ketidakadilan, “kecelakaan”, dll)

3. Anda memang tidak punya pilihan

4. Anda fokus tidak pada masalah hidup, tapi pada sisi enjoyable dalam hidup. Menikmati perjuangan bisa jadi salah satunya.

Jadi, teorinya, jika ingin menikmati hidup ini, punyalah satu hal yang anda PERCAYA sebagai pengendara, yang anda nyaman menyerahkan nasib anda kepada dia.

Kalau belum punya yang dapat dipercaya, bagaimana? yah balik ke komponen-komponen pembentuk kepercayaan.

1. Pilihlah yang sudah berpengalaman. Artinya, pilih saja apa yang sudah ada, jangan bikin dewa baru.

2. Pilihlah yang sudah terbukti, Tuhan, Karma, Moralitas, sudah terbukti (itu semua satu esensi, tapi beda gaya. Nah boleh pilih mau gaya apa). Jangan tiba2 besok nyembah pohon mangga depan rumah. Kalau belum percaya kepada esensi yang dipilih, misalnya Tuhan, ya sudah cobalah hidup dalam Tuhan, dan buktikan sendiri. Proses ini mungkin lama, tapi worth taking.

3. Toh anda ga bisa menyetir sendiri kehidupan anda. Bagaimanapun kita mencoba mendesain hidup ini, selalu ada tikungan-tikungan tak terduga yang bisa merubah arah hidup selamanya. Menurut gw, hidup ini banyak ditentukan oleh “kebetulan-kebetulan” kecil. Kebetulan ketemu si Anu, kebetulan memilih pergi ke tempat ini dari pada ke situ, kebetulan ikut organisasi ini, dll.

4. Fokuslah pada sisi menyenangkan dalam hidup.

believe-3

 

Susah? emang susah, everything worth doing is never easy. Sekarang gw bisa kaya begitu? Engga. Bisa diusahakan? Bisa.

Sama seperti orang telah melihat luar angkasa sebelum beneran pergi ke luar angkasa. Kita telah melihat kehidupan di mars, walau skrg mungkin belum bisa kesana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s