Maybe, Life is like All-You-Can-Eat Restaurant

Gara gara di traktir makan all you can eat, gw jadi punya random thought.

Mungkin sebenernya hidup ini kaya restoran all you can eat kali yah.

Kita bayar sebuah harga, and then kita boleh makan sepuasnya. Sama kaya manusia, asal kita berani bayar “harganya” (baca: usaha), kita bisa memperoleh semua yang ada di dunia ini.

Dulu waktu SMA gw kalo makan all you can eat, mentalnya mental ga-mau-rugi. Dulu hanamasa masih Rp80k kalo ga salah. Nah dengan Rp80k gw akan ambil sebanyak mungkin gw bisa. Ambil daging sebanyak-banyaknya, ambil dessert sebanyak-banyaknya. Hasilnya bisa ditebak, tiap pulang dari hanamasa duh rasanya mau meledak, jalan aja susah. Ga muntah sudah untung. Tiap sehabis piring terakhir, gw selalu diem supaya makanan yang udah masuk ga keluar lagi gara2 kebanyakan gerak atau ketawa.

Gw ga tau dengan makan seperti itu hanamasanya beneran rugi atau kaga. Rasanya sih dia ga mungkin rugi. Kita coba bayangin aja deh, gw makan daging sapi. Kalo diitung pake harga sekarang aja (yang lagi tinggi ga karuan), Rp80k itu adalah ongkos hanamasa beli daging sapi sekilo. Gw mikir ga mungkin banget gw makan daging sekilo. Makan 400 gram aja kenyangnya uda bukan main itu. Jadi kalo dipikir2 sekilas, hanamasanya ga mungkin rugi. Palingan keuntungan dia aja menipis, tapi apa sih artinya buat hanamasa ada satu orang makan kaya org kelaperan gila, penipisan untung itu ga seberapa.

Tapi apa yang gw dapet? Kenyang hampir muntah, selalu. Penyebabnya? Rakus, ga bisa lihat orang lain seneng (baca: hanamasa untung).

Gw akhirnya belajar bahwa kekenyangan sampai mau muntah itu bukan perasaan yang menyenangkan. Nahan muntah itu menderita. So, gw harus merubah mind set gw. Sekarang, kalo ke restoran all you can eat, gw mau mau pake mental ga-mau-rugi lagi, karena justru pemikiran seperti itu yang membuat gw merugi.

Gw mulai mencoba makan secukupnya, sampai agak kenyang lalu gw berenti makan main dish dan pindah ke dessert. Hasilnya setelah dessert cuman sampai “lumayan kenyang”. Dan ternyata, kondisi lumayan kenyang ini yang paling enak. Mungkin restorannya untungnya relatif lebih tebel karena gw makan relatif lebih sedikit dari kapasitas maksimum perut gw, tapi ternyata voila! Kondisi lumayan kenyang ini memberikan gw kepuasan yang paling tinggi, “utilitas maksimum” kalau bahasa anak ekonomi. Perut enak, masih bisa santai2 ketawa2 karena ga nahan muntah lagi, jalan pulang juga enak.

Gw mulai belajar berkata “cukup” setiap kali makan di restoran all you can eat, dan ternyata mampu berkata cukup itu enak.

Jadi mikir, mungkin hidup juga gitu, mungkin pada suatu level, kita harus mampu berkata cukup. Bukan berarti tidak boleh bermimpi atau berambisi besar. Mungkin bisa di analogikan mimpi itu seperti ukuran perut. Ada orang yang emang perutnya muat sedikit, ada yang muat banyak. Tapi orang dengan perut sebesar apapun, akan ada tingkat kekenyangan maksimal dimana setelah itu ia akan muntah. Sama dengan mimpi, seberapa tinggi pun mimpi seseorang, akan ada tingkatan dimana ia harus berkata cukup, sebelum ia jadi tak bisa “tertawa” dalam hidup ini karena takut apa yang sudah “masuk” akan “keluar” lagi, sama halnya ketika saya jd tak bisa bersenda gurau dengan teman akibat menahan muntah.

Yah, just a random thought.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s