Unexpected Lesson from Unexpected Person

Ketika sedang dalam perjalanan ke penang, saya bertemu dengan seorang Ibu yang spesial. Saya percaya pertemuan kami bukan kebetulan, melainkan adalah sesuatu yang sudah di atur dalam lembaran kehidupan yang bahkan belum saya jalani saat itu.

Saya masuk pesawat seperti biasa, mencari tempat duduk, yang ternyata ditempati orang lain sehingga saya harus bergeser satu kursi, yakni di posisi tengah, dimana saya seharusnya duduk di posisi jendela.

Saya pribadi tidak suka duduk di tengah, karena  badan saya besar, sehingga sempit sekali rasanya. Karena itu, setelah pesawat lepas landas, saya pun mencari tempat duduk yang kosong, yang agak lenggang. Jadilah saya duduk satu deret dengan Ibu itu, dia di deket jendela, sedang saya di samping aisle.

Ibu itu membuka komunikasi dengan saya dengan pertanyaan yang sangat membingungkan, yaitu ” Om, kita ini sedang di atas ya?”

Saya bingung, apakah saya salah menangkap maksud atau bagaimana. Ini pesawat, jelas kita sedang di atas alias terbang, saya jd mikir, apakah betul Ibu itu menanyakan bahwa apakah kami sedang terbang… atau saya yang salah menangkap maksud.

Saya bengong sepersekian detik, tapi lalu menjawab juga dgn ragu “iya bu”…

Untungnya Ibu itu tidak membiarkan rasa penasaran saya terlalu lama, ia langsung melanjutkan “Ini baru pertama kali saya naik pesawat”. Dalam hati saya “OOoooo, baiklah”

Lalu saya terlibat pembicaraan yang seru dengan Ibu itu. Saya tidak biasa mengingat cerita orang, tapi dengan Ibu ini, saya akan berusaha menuangkannya dalam bentuk tulisan dengan mengingat semampu saya.

Ibu ini adalah seorang pembantu rumah tangga. Tapi dia sangat beda dari pembantu rumah tangga lainnya. Dan inilah yang membuat ia berbeda, yang membuat saya terkagum bahwa masih ada orang seperti dia di dunia ini. Saya belajar banyak hal dari dia.

Ia baru pertama kali naik pesawat, ia menangis ketika pesawat lepas landas, karena takut sekali. Tapi ia tetap mengangkasa. Saya belajar keberanian disana.

Ia bekerja pada sebuah rumah di bilangan jakarta, mengurus lansia. Ia sudah bekerja 6 tahun, dimana pembantu lain biasanya hanya bertahan beberapa bulan. Walaupun orang tua yang ia jaga sangat bawel, tapi dia sangat setia dan sabar melayani. Saya belajar kesetiaan.

Ia adalah seorang pembantu rumah tangga, yang mempunyai rumah seharga Rp 75 juta di bogor, ia BELI dengan hasil keringatnya sendiri. Berapa banyak pembantu rumah tangga di Indonesia raya ini yang punya rumah sendiri? Saya belum pernah dengar. Bagaimana resepnya? Ia menabung. Setiap gaji yang ia terima, hanya ia ambil sebagian untuk uang kontrak rumah (waktu itu dia belum beli rumah), sisanya ia tabungkan. Saya diingatkan kekuatan menabung.

Ia adalah seorang pembantu yang menyekolahkan anaknya sampai ke SMA, bahkan ia sudah menyiapkan uang kuliah untuk anaknya, siap membelikan motor untuk transportasi anaknya, dan siap membelikan laptop untuk kebutuhan belajar anaknya. Ia berprinsip, anak saya harus lebih pintar dari Ibunya ini. Saya belajar bagaimana orang tua mengasihi anaknya.

Ia adalah seorang pembantu yang pergi ke malaysia, untuk bekerja pada saudara majikannya, karena orang tua yang ia jaga sudah meninggal. Dalam kepergiannya, ia diberikan uang jalan sebesar satu juta rupiah, “untuk mengisi dompet, takut diperiksa di bandara”, kata majikannya. Ia simpan uang itu UTUH, untuk ia kembalikan pada kemudian hari. Kata dia “majikan saya kasih uang ini untuk isi dompoet, bukan untuk saya pakai. Saya akan kembalikan uang ini”. Saya belajar untuk tahu diri, tahu batas, dan tidak mengambil apa yang bukan hak saya”. Saya belajar kejujuran.

Semalam sebelum kepergiannya, anaknya yang masih kecil masuk rumah sakit akibat gejala demam berdarah. Ia memutuskan untuk tetap berangkat, karena majikannya telah menyiapkan segalanya, mulai dari tiket, izin, uang, kontak, dll. Ia ingin menghargai majikannya, menghargai semua yang sudah diberikan kepada dia, kasih sayang, kedekatan, bantuan, budi majikannya. Tapi disisi lain ia juga sayang dan tidak tega meninggalkan anaknya yang masih kecil dan sakit. Maka Ia berdoa kepada Tuhan, dan sangat ajaib Tuhan menjawab doanya dan menyembuhkan anak itu dalam satu malam. Saya belajar kepasrahan kepada Tuhan.

Ia adalah orang dengan penyakit bawaan pincang. Kakinya kecil sebelah. Tapi ia bekerja keras, dan akhirnya mampu menghidupi diri dan keluarganya secara layak, bahkan membeli rumah, dan menolong orang lain. Saya belajar keteguhan.

Ia adalah orang yang sangat susah pada masa awal hidupnya. Punya anak, ditinggal suami, pernah tidak bisa makan selama seminggu, bahkan tidak bisa memberikan susu kepada anaknya. Tapi ia tetap memegang teguh nilai-nilainya. Ia tetap memilih untuk jadi orang baik, percaya bahwa Tuhan sudah atur segalanya. Saya belajar tentang Iman.

Sekarang ia sudah sukses, punya rumah, bisa bekerja di Malaysia, punya anak yang baik dan berpendidikan. Tapi banyak temannya yang tidak senang melihatnya maju, banyak yang mencibir, bahkan banyak perkataan yang menjatuhkan semangat. Tapi ia tetap maju, Ia tetap berjuang. Saya belajar betapa pentingnya memiliki prinsip. Untuk tetap maju walau orang tak suka. Untuk tetap percaya ketika orang lain menghina.

Ia adalah pembantu yang punya adik, yang dahulu selalu menghina dia dan menyakiti perasaannya, menghina kakinya yang pincang, menghina status kejandaannya, menghina hidupnya yang miskin dengan perkataan menusuk hati. Tapi sekarang, adiknya selalu datang ke dia untuk pinjam uang, untuk membiayai hal-hal yang penting seperti kesehatan, pendidikan, dll. Bukan hanya ia pinjamkan, ia berikan uang itu kepada adiknya. saya belajar kemurahan hati, dan hati yang memaafkan, hati yang tidak mendendam.

Selain adiknya, banyak orang yang juga meminta bantuan finansial kepada dia, juga untk hal-hal yang penting, ia berikan uang itu kepada orang-orang yang membutuhkan, walaupun kadang ia memberi dalam kekurangan. Ia percaya jika ia beri orang satu piring nasi, Tuhan akan kembalikan satu karung. Saya belajar kemurahan hari, dan iman yang teguh. “Saya ingat waktu saya susah, tidak ada yang bantu, sakit hati saya, tidak mau saya melihat orang lain merasakan apa yang dulu menimpa saja”, katanya.

Ia adalah Ibu Fatima.

Ia hanya tahu saya sebagai Om, dan satu-satunya penghubung kami adalah nomor majikannya yang menjemputnya di bandara. Ia akan berada di Malaysia selama 6 tahun untuk bekerja. Saya tidak tahu apakah akan bertemu lagi dengannya, tapi saya berdoa kepada Tuhan, semoga suatu hari nasib kami saling bersimpang lagi, untuk paling tidak melihatnya berhasil, dan sekedar mengucap “halo”.

 

Penang,

23 September 2012

Elbert

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s