Money, Overweighted

Saya belajar banyak hal selama di perusahaan saya yang lama, McKinsey. Tapi andaikan saja saya hanya boleh memilih satu hal untuk saya pelajari, maka hal yang akan saya ceritakan ini yang akan saya pilih, dimana pandangan saya tentang uang yang sudah saya pegang selama kurang lebih 7 tahun akan berubah.

Apakah betul uang adalah sumber kebahagiaan? Saya selalu beranggapan bahwa uang memegang posisi “sangat penting” dalam menentukan seberapa besar kebahagiaan hidup, semakin besar uang anda, maka akan semakin bahagia pula anda.

Saya termasuk orang yang sangat beruntung. McKinsey adalah salah satu perusahaan bergaji tinggi, bukan yang paling tinggi, tapi cukup tinggi. Dan yang bikin ngiler adalah saya boleh mendapat voucher taxi untuk transport setiap hari, plus uang makan, yah katakan saja cukup untuk membeli wagyu setiap kali makan.

Nah voucher taxi itu boleh dipakai untuk pergi dan pulang kerja (walaupun aturan resminya tidak boleh :p ups ketauan deh hehe) dan itu berlaku untuk silver bird.

Sebagai gambaran, total uang taxi dan uang makan, sehari saya bisa habiskan Rp940.000 (maksimal), yang semuanya ditanggung perusahaan. Dalam sebulan, saya rata-rata bekerja 20 hari, itu berarti, dalam sebulan saya punya kesempatan untuk mengkonsumsi sebanyak Rp18,8 juta, 2x lipat gaji saya lebih dikit.

Tentunya saya tidak pakai semua, karena kadang kerjaan sibuk sehingga tidak bisa good dinner, atau good lunch, jadi anggap saja saya pakai 50% nya, yang adalah Rp 9,4 juta.

Nah, dengan pengeluaran seperti ini, saya yakin saya termasuk orang yang spending level-nya lumayan tinggi (mungkin top 5%) dibanding teman-teman seangkatan, menikmati segala makanan lumayan mewah dan taxi premium (ingat, semuanya diluar gaji karena dibayarkan perusahaan)

Kalau memang uang (dalam hal ini adalah spending level untuk konsumsi) adalah ukuran kebahagiaan, maka seharusnya saya adalah kelompok 5% orang paling bahagia satu angkatan. Tapi nyatanya kok sepertinya tidak ya?

Di saat ini saya sadar, dalam persamaan kebahagiaan, uang bukan satu-satunya faktor.

Salah seorang teman saya pernah menjelaskan, kebahagiaan itu bukan semata-mata uang, karena uang diperoleh dengan pengorbanan. Jadi, walaupun kita dapat uang banyak, tapi kalo buat kita pengorbanannya jauh lebih besar, maka kebahagiaan juga tak akan menghampiri. hmm, penjelasan yang menarik.

Saya tidak mengatakan uang tidak penting untuk kebahagiaan, bukan, bukan itu. Saya termasuk orang yang skeptis dengan pernyataan “biar miskin yang penting bahagia”. Ya orang miskin bisa bahagia, kalau belum saatnya. Saat keluarga sakit dan kita ga mampu bayarin, akankah kita bahagia? Saat anak nanti butuh kuliah dan kita tak punya uang untuk membiayainya, akankan kita bahagia? Rasanya tidak.

Yang ingin saya katakan adalah, saya selama ini terlalu overrated uang, memandang seolah-olah sebagai satu-satunya faktor kebahagiaan. Ternyata masih ada faktor lain, selain uang.

Jadi, ketika kita mengevaluasi keputusan hidup kita nanti di masa depan, jangan berikan uang (gaji) bobot yang terlalu besar, berikan juga bobot yang cukup layak untuk keluarga, hobi, passion, dll terserah anda.

Uang memang penting, tapi bukan satu-satunya yang paling berpengaruh terhadap kebahagiaan.

Selamat paskah, GBU.

 

Elbert Ludica Toha,

8 April 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s