Two roads diverged in a wood

~ Two roads diverged in a wood, and I –

I took the one less traveled by,

And that has made all the difference ~

So, ini lah hari besar yang menentukan masa depan saya. Besok akan ada evaluasi atas hasil kerja saya selama enam bulan terakhir di McKinsey (McK). Evaluasi ini akan menentukan apakah saya mampu melanjutkan karir saya dari Consulting  Analyst (CA) intern ke CA permanent.

Telah dua bulan berkecamuk dalam pikiran apakah saya ingin melanjutkan karir sebagai konsultan manajemen di sebuah perusahaan konsultan terbaik di seluruh dunia – lengkap dengan segala kemewahan dan kebanggaan -terlepas dari hasil evaluasinya lolos atau tidak.

Ada dua faktor pendorong yang membuat saya ingin menyudahi petualangan saya sebagai konsultan;kecocokan dan kesesuaian dengan tujuan hidup.

Mengenai faktor pendorong yang pertama, saya percaya bahwa pekerjaan yang tepat untuk kita dapat ditinjau dari tiga hal, yaitu:

1. kita mengerjakan apa yang kita sukai, dan kita menyukai apa yang kita kerjakan

2. kita mengerjakan sesuatu yang kita jago dalam mengerjakannya.

3. pekerjaan tersebut dapat terasa gunanya bagi masyarakat atau orang-orang di sekitar kita.

Jika ketiga hal ini terpenuhi, itulah yang orang bilang “bekerja sesuai panggilan jiwa”.

Saya merasa pekerjaan saya saat ini jauh dari tiga hal di atas. Izinkan saya menjelaskan mulai dari poin ketiga. Saya merasa pekerjaan sebagai konsultan tidak memiliki dampak langsung kepada masyarakat. Saya tidak akan naif mengatakan bahwa pekerjaan konsultan tidak memberi dampak sama sekali. Malah saya mengakui pada saat yang tepat dan kondisi yang tepat, konsultan dapat menimbulkan dampak yang luar biasa, dimulai dari semakin baiknya kondisi perusahaan, kesejahteraan karyawan yang meningkat, servis dan barang yang lebih baik kepada konsumen, dll.

Namun demikian, mengetahui saja tidak cukup tanpa kita merasakan hal tersebut cukup dalam. Saya mengetahui bahwa pekerjaan konsultan berpotensi memberikan dampak yang luar biasa, namun saya masih gagal merasakannya.

Untuk kriteria kedua, saya merasa bahwa saya bukan consultant mumpuni. Artinya saya merasa tidak cukup baik dalam hal kemampuan untuk menjadi konsultan yang baik.

Saya tahu betul ini perasaan ini sangat mungkin dipengaruhi rasa rendah diri, oleh karena itu saya tidak menjadikan alasan ini menjadi yang utama, sebab validitasnya saja sudah dipertanyakan.

Mengenai yang pertama, saya tidak menyukai pekerjaan konsultan sama sekali. Saya ingin mencoba mengetahui alasan sebenarnya saya tidak enjoy dengan pekerjaan konsultan.

Studi saya yang pertama (kami menyebut proyek sebagai studi di McK), saya tidak suka karena studi tersebut sangat berat dan menekan. Plus, saya belum menguasai dasar-dasar ilmu consulting sehingga lengkaplah penderitaan saya. Baru belajar dengan meraba-raba, sudah ditekan untuk selalu sharphave perfect reason behind every argument, dan meminimalisasi kesalahan sebisa mungkin. Ditambah lagi saya disuruh mengerjakan tugas yang sangat melelahkan bagi seorang introvert, yaitu berhubungan dengan orang asing (interview  untuk mengetahui pendapat masyarakat dan preferensinya dalam menggunakan produk tertentu).

Saat itu saya berpikir, okelah mungkin studi kedua bisa lebih baik. Siapa tahu lebih mudah sehingga tekanan pun tidak sebesaryang pertama.

Saya masuk studi kedua, memang tekanannya tidak sebesar yang pertama, dari segi jenis pekerjaan pun tidak seberat yang pertama, pula tidak usah berurusan dengan orang asing, tidak ada interview, tidak. Tapi entah mengapa saya tetap tidak enjoy. Saya jadi berpikir, berarti ini bukan masalah tekanan dan jenis pekerjaan yang butuh orang extrovert ya… jadi apa dong…

Sama halnya dengan studi ketiga, tidak berat, tidak perlu berhubungan dengan orang-orang tak dikenal, tapi tetap ga enjoy.

Ada satu hal yang dikemukakan teman saya ketika berdiskusi, mungkin ketidak-happy-an saya berasal dari hubungan saya dengan kolega sekantor. Tapi saya merasa hubungan saya baik-baik aja. Memang sih, mungkin saya memang bukan tipe orang yang “go international“, jadi agak ga nyaman gimana gitu kalo kerja dengan bule. Mungkin ini penyebabnya.

Saya tidak tahu apakah betul perasaan tidak nyaman saya dengan orang bule yang membuat saya tidakenjoy. Tapi saya mencoba membayangkan bekerja dengan semua orang Indonesia, tapi diberikan jenis pekerjaan yang sama, saya pikir kok saya akan tetap sebel dan marah-marah ya, jadi mungkin bukan itu ya. Tapi saya juga tidak yakin.

Anyway, satu pandangan yang mungkin adalah bahwa saya seharusnya merasa tertantang dengan semua masalah ini. Mungkin saya seharusnya berjuang untuk gimana caranya dapat studi bagus supayadapatcreate impact, belajar menjadi konsultan yang baik supaya saya jago, dan belajar mengubah mindset untuk nyaman bekerja dengan orang asing.

Namun kembali saya berpikir, jikapun saya berhasil melewati semua tantangan itu, nanti saya akan menjadi seperti senior-senior saya. Kok rasanya saya ga mau ya jadi seperti mereka. Jadi, buat apa saya berjuang capek-capek untuk menjadi jenis orang yang tidak saya inginkan. Let me put it this way, sama halnya seperti mendaki gunung;ketika sudah mencapai puncak (kesuksesan), tapi kemudian sadar “duh salah gunung nih, saya maunya gunung yang itu, bukan yang ini”

Saya tidak mempunyai aspirasi untuk menjadi siapapun yang kesuksesannya mau saya tiru di McK.

Faktor pendorong yang kedua adalah kesesuaian tujuan hidup (goal alignment ).

Saya merasa bertahan di McK tidak akan membuat saya lebih dekat dengan tujuan dan keinginan saya dalam hidup. Sejak dahulu saya ingin menjadi pengusaha, dan apa yang diajarkan McK adalah tentang menjadi konsultan yang baik, bukan pengusaha yang baik.

Namun saya akan menjadi sangat naif jika berpendapat seperti itu. Saya menyadari bahwa satu atau dua pelajaran di McK akan sangat berguna ketika kita memulai usaha, yaitu (seperti teman saya menyebutkannya) adalah kemampuan presentasi dalam menjual diri, dan problem structuring.

Saya akhirnya bersikap bahwa mungkin itu adalah harga yang harus saya bayar untuk mengejar mimpi saya untuk menjadi entrepreneur. Harga yang saya bayarkan sangat mahal; pelajaran, stabilitas pendapatan, pengorbanan besarnya pendapatan yang akan saya terima jika saya stay di McK, dan masih banyak hal-hal lain yang sebetulnya tidak mau saya lewatkan.

Selain faktor pendorong, ada juga faktor penarik;ketertarikan saya untuk menjadi pengusaha.  Saya mampu membayangkan diri saya sebagai pengusaha di masa depan. Saya mampu mengambil role model, andaspired ones to bemy entrepeneur friends.

Selain itu, saya memiliki target yang sudah saya tentukan sejak SMA, dan target tersebut hanya dapat dicapai kalau saya mengambil jalur entrepreneurship.

Saya juga tidak menunda keluar lebih lama lagi karena saya membutuhkan bantuan kakak saya untuk mulai bisnis ini, dan dia hanya punya waktu 6 bulan untuk membantu saya. Semakin lama saya bertahan di McK berarti waktu yang saya punya semakin tipis dengan kakak saya.

Kurang lebih itulah alasan-alasan di balik pengunduran diri saya.

Nah apa yang saat ini saya rasakan?

Kalau boleh jujur, saya merasa takut untuk ngomong mau berenti besok – in less than 9 hours from now. Saya sadar bahwa saya mengambil jalan yang tidak aman sama sekali. Saya bahkan sampai saat ini belum tahu apakah ini keputusan yang benar.

Selalu ada pikiran-pikiran, bagaimana kalo ternyata saya gagal jadi pengusaha? Bagaimana kalau ternyata jadi pengusaha bukan sesuatu yang saya suka, bagaimana jika pengusaha bukanlah passion saya? Bahwa perasaan ini hanya sementara?

Bagaimana jika sebetulnya saya bisa menikmati pekerjaan sebagai konsultan jika saya mau bertahan sedikit saja lebih lama? Bagaimana jika sebetulnya defining moment untuk enjoy sebagai konsultan baru akan datang beberapa bulan lagi, namun saya malah keluar mengerjakan sesuatu yang nantinya tidak akan saya sukai?

Bagaimana jika nanti saya gagal menjadi entrepreneur hanya karena ada satu dua hal yang saya tidak kuasai, padahal saya bisa menguasainya kalau saja saya bertahan sedikit lebih lama di McK?

Bagaimana jika ternyata keputusan untuk keluar hanyalah suatu bentuk ketakutan dan ketidakmampuan menghadapi tekanan? dengan kata lain, keluar adalah bentuk dari “menyerah” pada tantangan?

Bagaimana jika ternyata jadi pengusaha bukan passion saya? bahwa perasaan ini hanya sementara?

Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan seperti itu, dan saya tidak mengetahui jawaban atas itu semua. Saya hanya modal nekad dan mau mengambil risiko. Saya hanya punya kepercayaan bahwa kesempatan akan ada dimana-mana. Bahwa kalaupun sekarang saya salah ambil jalan, bukan berarti hidup saya akan suram selamanya.

Saya hanya memiliki keyakinan atas semua pertanyaan yang tak terjawab di ataswalau keyakinan tersebut dapat mengkhianati saya nantinya.Cuman percaya, yang saya sadar ada potensi kepercayaan tersebut mengkhianati saya nantinya di masa depan.

Dan jikapun passion entrepreneurship saya ternyata hanya fantasi belaka, mungkin saya memang perlu salah jalan untuk mengetahuinya. Mungkin kita semua sebetulnya memang butuh kesalahan sekali-kali.

Saya takut, takut sekali.

Banyak orang bilang, tunggulah satu tahun, jangan enam bulan keluar seperti sekarang, sayang lho. Namun ketika ditanya mengapa harus satu tahun dan bukan enam bulan, tidak ada yang mampu memberikan jawaban yang memuaskan.

Saya berhadapan dengan dua jalan di hutan, yang satu sering dilalui orang, kelihatannya mudah dan pasti, dan yang satu lagi jarang dilewati, dan tidak ada yang tahu mengenai jalan tersebut apakah berbahaya, curam, dan rusak. Saya mengambil jalan yang jarang dilalui orang, dengan percaya bahwa apa yang saya inginkan ada di akhir jalan tersebut, tanpa kepastian, tanpa jaminan, but the reward will be remarkable if Itake the right pathway.

Saya siap untuk salah memilih!

Elbert Ludica Toha,

1 Maret 2012,

Pluit

P.S. (1 March, 11:00 pm , after receiving performance evaluation)

Apparently the evaluation went easier than I thought it would be. Artinya adalah saya tidak perlu memilih untuk keluar atau lanjut, tetapi memang saya diputuskan oleh McK untuk tidak perlu melanjutkan, alias dipecat. Bahasa halus untuk konsultan adalah counseled out.

*It’s funny, you know? Apparently all of my thoughts lately are meant to make myself ready to face this – not to call the decision itself hahaha, I am so grateful*

Yang namanya ditolak, seberapa siap pun kita, atau bahkan ketika itulah keinginan kita, pastinya tetap menyisakan rasa sedih, biar sedikit.

Tapi bahagia saya sepertinya lebih dari kesedihan ditolak, karena counseled out berarti berita baik. Artinya, risiko penyesalan karena salah pilih akan lebih kecil, karena dengan mudah sekarang saya bisa meyakinkan diri saya, “memang sudah jalannya”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s