The Smiling Beggar

Dalam perjalan pulang dari kota tua, saya terhenti oleh sebuah lampu merah. Di situ saya menemukan apa yang menjadi pemandangan umum kota Jakarta, yaitu seorang pengemis tua yang meminta-minta.

Sayapun memberikan tanda yang umum saya berikan kepada pengemis, yaitu tangan dibuka dengan telapak tangan menghadap si pengemis, yang merupakan bahasa tubuh dari “tidak”.

Tapi ada yang spesial dari si pengemis ini, yang membuatnya berbeda dari si pengemis-pengemis lain, yaitu ia tersenyum lebar ketika meminta. Dan lebih menarik lagi, ia tetap tersenyum super lebar bahkan ketika saya sudah mengatakan tidak akan memberi.

Dalam sepersekian detik, tiba2 muncul rasa ingin memberi, tapi bukan karena kasihan atau apa, lebih karena saya tidak pernah menemukan pengemis bersenyum lebar. Biasanya mereka selalu pasang muka minta belas kasihan. Akhirnya saya rogoh uang, semata-mata untuk menghargai senyumannya, yang entah bagaimana sedikit mencerahkan hari saya setelah bermacet2 ria di Jakarta. Dan mungkin juga karena dalam hati saya ingin membuat pengemis itu tetap tersenyum, supaya senyuman itu tetap diawajahnya untuk mencerahkan hari pengendara-pengendara lain yang dimintai-nya.

Elbert Ludica Toha

Pluit

24 Desember 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s