Judge, and you will be judged.

This is my experience when I started working in McKinsey. Perlu diingat bahwa apapun yang tertulis dibawah ini adalah perspektif dan persepsi (gw) atas sebuah kenyataan, bukan kenyataan itu sendiri. Just like one man said “All we see is perspective, not the truth”.

McKinsey adalah sebuah perusaaan besar dengan standar yang sangat tinggi atas segala yang dikerjakannya (setidaknya begitulah menurut gw). Hari-hari awal gw mulai bekerja adalah hari yang sangat sulit dan bikin stress (well sampai sekarang masih sih sebenernya), karena apa? Karena somehow gw merasa apa yang gw kerjain selalu salah dan kurang bagus.

I feel like I am like square-peg in the round-hole. And it’s freaking difficult, and drained my mental energy. It’s a bit hard for me to be very honest to tell this story, karena ini menyangkut ego. but I’ll try my best.

And I started to think whether or not I can survive in this company. Buat gw sih masalah utamanya bukan apakah nanti gw dikeluarkan atau tidak, atau berapa lama gw bisa bertahan. Tapi yang jadi masalah adalah satu kata, yang disebut “malu”.

Kenapa gw malu? well, this is very embarassing, and natural.

Gw dulu selalu “mengumbar” (kok ga ada kata yang lebih positif ya dr pd ini hehe) kalau gw pengen msk McKinsey, dan McK itu perusahaan impian gw. Sekarang, gw uda masuk di dalamnya. That is good. But sekarang ada masalah selanjutnya, semua orang berpikir gw uda masuk perusahaan impian gw, pasti gw suka dong dengan pekerjaannya, pasti gw mampu dong utk perform bagus. Every good story (should) ends well, you get what you want, and “happily ever after”  should be there.

Tapi gw sekarang cuman menertawakan diri sendiri, nyatanya ga ada happily ever after, adanya bahkan gw bisa dikeluarkan. and it’s not “happy” at all. Di McKinsey, ada policy “up or out”. Jadi lu ga bisa “nyangkut” di posisi yang sama bertahun-tahun. Pilihannya cuman 2, either you are promoted, or you get fired. My “up or out” moment adalah 6 bulan sejak gw masuk, yang artinya sekitar 4 bulan lagi.

So, i began to think, what if… what if…. what if i get kicked out. Duh malu banget ya. Gw membayangkan orang akan berpikir “Yah, dikeluarin dari perusahaan impian, baru enam bulan pula. Makanya kalo ga mampu jgn maksa masuk perusahaan sebagus itu. “Maksa” cmn bisa bikin lu diterima masuk, tapi ga bisa bikin lu bertahan”

Hmm, I started to question my self, apakah sebenernya gw mampu untuk bertahan. Ataukah dulu tuh gw masuk cmn karena gw meng-stretch kemampuan gw satu kali, tapi ga bisa di pake untuk bertahan. Ibaratnya kaya shotgun bullet, kekuatan pelurunya sangat masif, tapi tembak sekali langsung abis. Nah kemampuan gw juga kaya gitu, dulu pernah “nembak sekali” makanya bisa masuk McK, tapi skrg uda abis pelurunya.

Then melalui beberapa obrolan dengan teman, gw sampai pada perkataan “duh boleh ga sih gw gagal (dikeluarin) tapi ga dijugde macem2 sama orang lain? dijudge bego lah, di judge ‘maksa’, diketawain, dll. Intinya, boleh ga sih gw gagal tanpa dihakimi…”

Then boom!, sekarang gw tau apa artinya nasihat “jangan menghakimi orang lain”. dulu gw ga pernah ngerti maksud nasihat ini tu apa, dan apa pentingnya. Tapi sekarang gw ngerti, nasihat ini muncul karena dihakimi itu ga enak banget rasanya. Gw mau walaupun nanti gw di pecat, gw ga dihakimi macem2 kaya bodoh, -dulu sih maksa-, diketawain, dll. So, pelajaran nomor satu yang gw dapat adalah jangan menghakimi orang lain, karena hal itu membuat orang tersebut menderita, sama seperti gw yang menderita (ga enak rasanya) kalau dihakimi.

Nah nasihat itu ada lanjutannya, “Jangan menghakimi orang lain, maka kamu tidak akan dihakimi” Apa maksud kalimat lanjutan ini?

Gw sadar kemungkinan paling besar gw berpikir gw akan dihakimi adalah karena tanpa sadar gw suka menghakimi orang lain (maaf yang terdalam jika dari anda ada yang pernah merasa gw hakimi, sori ya)

Kalau gw sering menghakimi orang yang dipecat itu orang bodoh, maka kalau suatu saat gw dipecat gw akan nganggep gw orang bodoh. Ketika gw menghakimi, maka tanpa sadar gw juga akan menghakimi diri gw sendiri, yang pada akhirnya membuat gw merasa orang lain juga akan menghakimi seperti gw menghakimi diri sendiri. (duh semoga ngerti yah penjelasannya haha)

Sama seperti sebuah perkataan yang berbunyi: sombong dan minder itu kakak-adik, anak dari kebiasaan buruk yang bernama “membanding-bandingkan diri”.

Orang bisa sombong karena dia sibuk membandingkan dirinya, dan kebetulan saat itu dia lebih tinggi dari orang lain. Nah pada gilirannya dia akan ketemu orang yang lebih hebat dari dia, dan akibat kebiasaannya membandingkan diri, dia menemukan kalau dirinya memang lebih rendah dari orang lain. Dan pada saat itulah dia akan minder.

Jadi, “membanding-bandingkan diri adalah Ibu dari kesombongan, dan sayangnya juga Ibu dari rasa minder”

Tanpa membandingkan diri, kita tidak pernah merasa sombong, tapi juga tak pernah merasa minder.

Sama halnya dengan menghakimi. Tanpa kita menghakimi orang lain, kita tak akan menghakimi diri sendiri, yang buntutnya membuat kita merasa dihakimi orang lain sama spt kt menghakimi diri sendiri.

So, it’s all coming back to me. It is me, my fault that I feel all those kind of ugly feeling.

I learned my lesson, “never judge other, and you will never be judged”.

 

Elbert Ludica Toha

Pluit, 24 September 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s