Connecting My Dots

Steve Jobs pernah berbicara di depan Stanford Gradutes mengenai apa yang ia sebut “Connecting the Dots”. Beginilah ia mengisahkannya.

Dulu ia berkuliah di Reed College, salah satu college termahal saat itu yang menghabiskan seluruh tabungan orang tuanya. Enam bulan setelah kuliah, ia keluar (drop out) karena ia tidak tahu tujuan hidupnya dan menyadari bahwa college pun tak bisa membantu menemukannya. Walaupun drop out, dia tetap sit-in di kelas yang ada, “nyuri2” ikut kelas istilahnya.

Karena dia secara sistem sudah drop out, dia bisa sit in di kelas manapun yang ia mau yang menurutnya menarik karena ia tidak harus ikut kelas wajib yang menyita waktu. Pada zaman tersebut, Reed College memiliki kelas kaligrafi paling baik se-entaro negeri, dan Jobs pun merasa tertarik untuk mengikutinya. Andaikan ia tdk drop out, ia pasti harus mengambil mata kuliah wajib sehingga tidak bisa masuk kelas kaligrafi.

Pada masa itu, dia tidak menemukan kegunaan praktis dari kelas kaligrafi, dia mengambilnya hanya karena merasa tertarik. Dari kelas tersebut dia belajar macam-macam tulisan, bentuk huruf, spasi yang cocok, lebar huruf, jarak, dsb.

17 tahun berlalu, dan dia menciptakan komputer Mac pertama. Di mac pertama ini, dia memasukkan semua pengetahuannya mengenai kaligrafi sehingga lahirlah bermacam2 font yang kita nikmati sekarang. Dan ia mengatakan “…and since windows just copy the mac, if i didn’t drop out and drop-in in calligraphy class, there would be no beautiful font as we have today”.

That’s his dots. Bold decision to drop out (and scary), but at the end it changes the computer typography world.

Sekarang, saya lulus setelah berkuliah selama empat tahun. Saya jadi bernostalgia dan merenung bertanya, “What are my dots and how did they connect each other?”. Saya menemukan bahwa semuanya terjalin begitu rapi dan indah.

So, let me work it backward, dari titik yang paling baru ke titik sebelumnya yang saya duga menjadi Ibu bagi titik-titik kehidupan saya sekarang. Kita akan menelusuri titik-titik ini sampai kepada masa saya SMA.

Titik besar saya sekarang ada dua, salah satunya yaitu diterima sebagai CA (entry level) di McKinsey

Ibu dari titik ini (McKinsey) adalah titik dimana:

1. Saya menjadi Head Internal Control 33rd Jazz Goes to Campus. Mengapa? Karena dalam interview McKinsey yang dimana mengedepankan soft skill dan leadership, saya sangat banyak bercerita pengalaman ttg 33rd JGTC. Tanpa pengalaman tersebut, saya pasti tidak punya cerita (yang seru dan dramatis), dan sangat mungkin tidak diterima di McKinsey. Soalnya banyak cerita seru di 33rd JGTC. Demikianlah titik 33rd JGTC menjadi Ibu bagi titik McKinsey.

2. Saya mengenal Leon

3. Saya mengenal Shuhaela

4. Saya mengenal Mulyono

5. Saya mengenal William

Mengapa keempat orang ini (dr no 2 sampai no 5)? Karena dari mereka saya tau banyak info tentang Consulting dan khususnya McKinsey, dan dari mereka saya berlatih mempersiapkan wawancara. Thanks to you guys.

Berikutnya, siapakah yang melahirkan titik “33rd JGTC”? Ada empat penyebab munculnya titik ini:

1. Saya adalah staf Kontrol Internal 32nd JGTC

2. Sebetulnya ada seorang teman yang diminta menjadi KI 33rd JGTC sebelum saya, namun ia menolak dengan alasan yang sampai hari ini tidak saya mengerti.

3. Project Officer (Ketua) 33rd JGTC adalah Rangga, seorang yang mengandalkan intuisi dalam memilih Head KI 33rd JGTC (konteksnya waktu itu ada dua orang yang menjadi calon, saya dan seorang teman. Kalau menurut analisis logika, harusnya yang kepilih dia dan bukan saya).

4. Ada seorang teman yang sudah berada di dalam panitia inti sebelum saya ternyata nge-vote untuk saya supaya terpilih.

Kalau saja ada satu titik yang kurang, saya tidak akan menjadi Head Internal Control 33rd JGTC, dan dengan demikian saya tidak akan berada di McKinsey sekarang.

Bagaimana ceritanya sampai saya menjadi staf kontrol internal 32nd JGTC? Karena dipilih (close recruitment) oleh Head KI 32nd JGTC yaitu William.

Mengapa William memilih saya? (Mungkin) karena pekerjaan saya dianggap memuaskan ketika saya menjadi staf divisi kompetisi acara Indonesian Accounting Fair (IAF) di tahun pertama saya sebagai mahasiswa.

Mengapa saya terpilih sebagai staf kompetisi Indonesian Accounting Fair? Lagi-lagi karena saya diajak oleh William (yang sama), dimana ia menjadi koordinatornya.

Nah pertanyaan berikutnya, bagaimana saya bisa mengenal William? Saya kenal dia melalui KUKSA. Di dalam KUKSA, ada sebuah sistem yang dinamakan Keluarga Kecil (KK). Nah di KK, kita biasa berkumpul seminggu sekali untuk sharing dan berdoa bareng. Dalam setiap KK, ada sekitar 5-6 anak2 (junior – AKK – Anak KK) dan 2 orang tua (senior – PKK – Pemimpin KK). Nah pada suatu saat, jadilah William PKK saya.

Menariknya, sebetulnya pada awal masuk kuliah hari pertama, saya bukanlah AKK William. Akhirnya saya menjadi AKK William adalah karena KK saya sepi dan jarang yang dateng, dan kebetulan jadwal pertemuan KK saya sama dengan KK William, maka suatu hari terbersitlah ide untuk menggabungkan kedua KK tersebut, KK dimana saya menjadi AKK dan KK dimana William menjadi PKK. Bingung? Cant find easier way to explain it, sorry 🙂

Mengapa saya bisa bergabung dengan KUKSA? Jawabnya adalah karena saya masuk UI.

Siapakah orang tua dari titik “masuk UI”? Ada dua,

1. Saya mengenal Mulyono

2. Saya mengenal Stevenlie

Kedua orang ini telah berjasa membuat saya masuk UI. Mulyono adalah senior saya di SMA, dia ketua ekskul yang saya ikuti ketika kelas satu. Dia bercerita banyak hal mengenai UI sehingga menginspirasi saya kepengen masuk UI. Lie karena dialah orang yang jalannya saya ikuti untuk mempersiapkan ujian masuk UI (SPMB ketika itu). Saya ikut BTA 8 juga dulu tau nya dari dia. Ga ada dia saya pusing deh gmn siapin diri untuk SPMB. Dan kalau SMPB ga persiapan, rasanya ga masuk (FE)UI deh…

Siapakan Ibu “Mulyono”? Wah dateng aja kerumahnya liat Mama nya hehe (jayus) anyway, yang saya maksud adalah dari mana saya mengenal Mul? Yaitu karena saya ikut sebuah ekskul yang bernama TSPC, sebuah ekskul tentang self development, leadership, dan public speaking skill. Mungkin disini juga saya belajar banyak hal sehingga bisa perform baik di kepanitiaan kampus.

Mengapa saya ikut TSPC? Karena kedua kakak saya adalah mantan ketua TSPC, dan mereka banyak cerita ttg ekskul ini waktu saya SMP. So, saya ikut deh ekskul itu.

Saya akan berhenti sampai pada titik ini. Sebenarnya bisa saja ditelusur mengapa kedua kakak saya ikut ekskul TSPC, tapi nanti jadi tidak relevan dan pasti tidaklah menarik, lagipula terlalu jauh flashbacknya. Dan tentunya banyak titik lain yang terhubung satu sama lain yang tidak saya ceritakan disini, karena nanti akan kepanjangan (spt misalkan bagaimana sejarah saya mengenal Leon dan Shuhaela, tentang KOMPeK 11, dll).

So, sampai disini kesimpulannya adalah karena kedua kakak saya ikut ekskul (dan jadi ketua) TSPC, makanya saya bisa masuk ke McKinsey. Sebuah kesimpulan dan hubungan yang tak akan terlihat ketika saya SMA.

Cerita saya mau menunjukkan bahwa semua titik kehidupan punya maksud dan tujuan, yang mungkin tidak kita mengerti kalau kita melihat ke depan, tapi tergambar kelas jika kita melihat kebelakang nantinya.

Sedangkan cerita Steve Jobs yang saya tuliskan sebagai pembuka ingin juga mengatakan bahwa kadang titik yang kita pilih dan jalani sekarang terlihat super absurd dan seram, tapi bahkan titik tersebut juga punya maksud dan tujuan.

Maka dari itu, jangan takut membuat (dan menjalani) titik2 di kehidupan anda sekarang, karena percayalah itu semua pasti berguna di masa depan.

Saya tidak tahu kemana titik McKinsey akan membawa saya di masa depan. Menyeramkan jika membayangkan saya harus bekerja bersama orang2 yang hebat setinggi langit, muncul kekawatiran bahwa saya tidak bisa bersaing dengan orang2 ini. Tapi satu hal yang pasti dan saya percayai, bahwa titik ini pun punya maksud dan tujuan, dan itu sudah cukup untuk membuat saya mengatasi segala kekawatiran.

 

Elbert Ludica Toha

Agustus 2, 2011

Pluit

 

This writing is a tribute to:

1. God the Grand Designer of my life

2. Everyone whose name (or role) is mentioned in this writing, the credit is yours

3. For everyone I know but not mentioned in this writing, I can’t thank you one by one, but you need to know that you are also part of my life, who influence every decision i made throughout my high school and campus life.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s