Is Giving really a Loss?

Memberi uang mungkin sudah biasa, dan mungkin cukup ringan bagi kebanyakan dari kita untuk melakukannya. Namun demikian, ada jenis memberi yang lebih sulit dari sekedar memberi uang. Di FEUI, menurut pengalaman gw yang paling berat adalah memberi (berbagi) informasi dan pengetahuan. Pasti ada dari kita yang pernah menyembunyikan informasi lomba karena tidak mau banyak saingan. Pasti ada dari kita yang tidak mau berbagi informasi tentang pekerjaan ketika kita juga ikut apply, alasannya sama: takut nambah saingan. Atau enggan mengajarkan (memberi imlu) teman, takut kalah nanti sama yang diajar, baik dalam lomba maupun dalam mendapatkan pekerjaan.

Beberapa waktu lalu, gw mengalami pengalaman yang menarik tentang memberi.

Ini saya alami ketika mendaftar untuk menjadi konsultan McKinsey. Seperti yang telah saya ceritakan pada notes sebelumnya, saya harus mengerahkan segala daya upaya dan kemampuan untuk berhasil diterima sebagai bagian dari McKinsey. Bagi saya waktu itu, sangat sulit!

Nah, jadi pada saat itu gw sudah berhasil lolos tes CV dan Problem Solving Test. Ini berarti, satu-satunya yang tersisa adalah interview (tapi justru ini bagian yang berat). Saat itu, ada 20 orang yang sudah lolos PST dan tinggal interview, termasuk gw.

Saya pun mulai mencari teman untuk latihan interview bersama. Pada akhirnya saya membentuk grup berisikan 5 orang untuk latihan bersama (mock interview) agar kami siap menghadapi interview, yang notabene cukup berat.

Grup kami berisikan dua anak FEUI termasuk saya, dan tiga anak FISIP UI. Perlu diketahui sebelumnya bahwa interview di McKinsey adalah case interview mengenai bisnis secara umum.

Pada latihan awal, saya menyadari bahwa teman2 FISIP memiliki pengetahuan bisnis yang minim. Jadi seringkali pada saat latihan, saya malah mengajari mereka pengetahuan yang saya dapat tentang bisnis di FEUI kepada mereka, framework2 bisnis yang umum, business sense, dan dasar-dasar korporasi. Selain itu, saya juga sudah berkali-kali mock interview jauh sebelum mereka mulai, jadi saya juga mengajarkan tips dan trik yang saya dapatkan dari coach2 saya sebelumnya. Intinya, yah saya berbagi semua yang saya tahu dan penting untuk berhasil case interview. Awalnya tidak ada masalah, namun beberapa hari kemudian muncullah yang saya sendiri takutkan.

Hal tersebut adalah godaan untuk berhenti berbagi pengetahuan. Sempat terbersit pikiran untuk tidak mau mengajarkan mereka lagi tentang ekonomi dan bisnis. “Nanti mereka malah lebih jago dari saya, bisa kacau…” begitu pikir saya. “Lagipula kok sepertinya saya yang memberi terus, tapi tidak menerima.” (ini pikiran yang salah sih sebenernya, tapi ego manusia kan kadang muncul juga hehe)

Walaupun begitu, saya tidak berhenti berbagi karena saya tahu dalam hati bahwa itulah yang benar. Saya malah mengajarkan kepada seluruh yang saya tahu. Memang ada rasa takut. Pikiran takut kalah, takut disalip seringkali muncul. Akhirnya, saya berdoa menantang Tuhan “Tuhan, kau bersabda bahwa jika saya memberi, semuanya itu akan kembali kepada saya 3x lipat. Saya mau bukti. Walaupun saya takut ini itu, takut kalah, takut nambah saingan, tapi saya ga akan berhenti berbagi. Karena itu buktikan Tuhan! Apa yang saya dapat dari berbagi”

Mulai dari situ, semua berjalan biasa saja. Sampai pada hari H, kami diinterview bergiliran. Jadi setelah interview satu kali, saya bisa menunggu hampir 3 jam untuk interview berikutnya, dimana kami (sesama interviewee yang menunggu) mengobrol.

Nah tiba2 ada ucapan yang menarik dari seorang teman dari grup belajar saya. Ia (anak FISIP), tiba2 berkata begini “Bert, thanks ya udah ngajarin kita banyak banget utk case interview ini, gw pengen banget dan berdoa biar lu masuk, soalnya lu sudah ngajarin kita banyak banget hehehe”. Lalu teman belajar saya yang juga anak FISIP turut meng-iyakan perkataan temannya.

Gimana ya…. di saat2 stress, interviewnya lumayan berat, penuh harap supaya bisa lolos tapi cemas takut ga lolos, tiba2 ada yang support gw dan mendoakan gw biar harapan gw tercapai, itu sejukkk sekali. Seperti air harapan yang menyejukkan di tengah panasnya kecemasan dan ketakutan…. Rasanya enak banget…

Dan saat itu gw sadar, memang memberi itu selalu membuat berkat kembali kepada kita, bahkan dalam bentuk yang paling kita tidak duga atau harapkan. Dalam pengalaman gw, pemberian gw kembali dalam bentuk doa dan harapan, tepat di saat gw sangat membutuhkannya, yang mana menurut gw sangat indah dan besar pengaruhnya….

So, kalau anda takut memberi, begini tipsnya

1. Jangan berhenti memberi, lanjutkan saja walaupun perasaan ga enak

2. Berdoa, minta bukti kepada Tuhan bahwa dengan memberi sesungguhnya kita telah menerima, maka InsyaAllah kita akan melihat keajaiban dari memberi, sama seperti yang gw alami.

So, berbagilah, saling memberi…

 

June 6, 2011

Pluit

Elbert Ludica Toha

follow my twitter at elbert_ludica

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s