My Giant Leaps – personal experiences about the power of belief, hard work, and prayer

Minggu lalu saya menerima kabar yang begitu menggembirakan, yaitu saya diterima kerja di McKinsey, sebuah perusahaan konsultan manajemen yang sejak dulu saya impikan. Nah, sebelum saya menceritakan kisah saya, saya hendak mengajak anda untuk menonton film yang berikut terlebih dahulu

(video)  http://www.youtube.com/watch?v=ktHiG7lR-Lg&feature=related

(lyrics – english translated)   http://pyo2.blogspot.com/2008/02/everyone-is-number-1.html

Kisah menarik dalam film tersebut adalah Andylau mampu menjadi juara satu dalam perlombaan lari meskipun ia cacat (hanya berkaki satu). Awalnya ia sempat depresi, merasa tidak berguna, mengingat-ingat kejayaan masa lalu, dan hampir mau bunuh diri. Tapi secara kebetulan dia tersadarkan bahwa cacat bukan berarti berhenti mengejar mimpi. Cacat bukan berarti berhenti berusaha. Nah, dalam proses dari seorang yang cacat menjadi juara, ada tiga hal yang menarik:

1. Dia sadar bahwa walaupun dia cacat, dia masih bisa menjadi juara lari. Dia sadar bahwa walaupun cacat, dia masih bisa berguna buat orang lain. Dia secara sadar menolak anggapan umum bahwa orang berkaki satu tidak mampu berlari. Dia mendobrak kepercayaan umum. Dia percaya pada apa yang dia inginkan.

2. Sadar saja tidak cukup, kepercayaan pada kemampuannya dalam keadaan yang sangat terbatas dimanifestasikan dalam untaian usaha dan latihan. Ada satu adegan dimana dia berlatih berlari, terjatuh, namun bangkit lagi. Dia sungguh-sungguh mengusahakannya. Jatuh, bangkit lagi. Jatuh lagi, ya bangkit lagi. Walaupun sakit, tapi tidak mengeluh, tidak minta dikasihani.

3. Akhirnya segala usaha dan kesusahan membuahkan hasil, dia juara 1. Selain itu, dia juga jadi inspirasi bagi orang lain (khususnya anak kecil dalam video tersebut)

Apa hubungan video tersebut dengan cerita yang akan saya sampaikan ini?

McKinsey (McK) adalah perusahaan konsultan paling prestisius di dunia. Yah tentunya itu subjektif, tapi kebanyakan orang pasti setuju bahwa sangat sulit untuk diterima kerja sebagai konsultan di perusahaan ini. Salah satu orang McKinsey bahkan berkata “we only recruit top 5% people in the world”. Tentu jangan diartikan harafiah, tapi lebih kepada penggambaran betapa sulit untuk masuk ke perusahaan ini sebagai konsultan.

Tahun-tahun yang lalu, ada beberapa alumni FEUI yang berhasil menjadi konsultan McK. Alumni tersebut ada yang bernama L, pemenang segala kompetisi bergengsi di mancanegara. CV nya ada lebih dari sepuluh halaman. Pokoknya semua mahasiswa FEUI pasti kenal dia deh. Adalagi seorang bernama M, sebagai lulusan tercepat, termuda, dan sekaligus tertinggi FEUI, punya 9 gelar di umurnya yang ke 23. Ada seorang lagi bernama C, mantan PO (Ketua) Jazz Goes to Campus yang notabene sebuah acara mahasiswa terbesar dan termahal di FEUI, jazz festival kedua tertua di dunia. Nah, jadi dapet kan bayangannya orang macem apa yang ketrima di McK?

Satu kesamaan mereka adalah, they are shiny people in FEUI, one of the best that FEUI ever had.

Saya memang sejak dulu ingin berkarir di McK. Tapi sepertinya saya ga comparable deh kalo dibanding alumni-alumni yang masuk kesana. Saya kalah dalam setiap lomba bisnis. Saya ulangi ya, SETIAP lomba bisnis, every single of them. Saya kalah di lomba B, kalah di lomba C, bahkan tidak ikut lomba T hanya karena ga ada tim yang mau sama saya (duh sedih hahaha). Ini membuktikan bagaimana perjuangan saya di FEUI. Saya bagaikan andylau yang cacat, tapi ingin juara satu. I am not a shiny people in FEUI, but I want to join McK.

Saya senang menulis CV dengan template McK, karena kita “dipaksa” untuk memuat semua prestasi kita dalam satu halaman saja. Karenanya, saya bisa bikin satu halaman full seolah2 selected achievement aja nih yang masuk. padahal sih sebenernya emang kalo dikumpulin cuman satu halaman hehehe. lebih lagi, CV saya jadi ga kebanting kalo dibandingin sama orang2 yang prestasinya jauh lebih banyak, kan sama2 satu halaman *senyum licik*

Tapi demikian, dengan segala keterbatasan saya, saya menolak untuk percaya bahwa “karena saya bukan orang hebat, saya tidak bisa masuk McK”. Saya buat kepercayaan sendiri. Saya tau sih, selama ini alumni FEUI yang masuk McK tuh setengah dewa semua, tapi saya berkeras walaupun saya manusia, tapi tetep ada kemungkinanlah buat join McK. Ini sama dengan poin pertama dalam video di awal tulisan ini.

Lalu, apakah cukup dengan percaya saja? Tentu tidak. Saya berani mengatakan bahwa saya adalah orang yang berusaha menyiapkan diri paling keras untuk tes recruitment.

Test McK itu ada 4 tahap, yaitu seleksi CV, Problem Solving Test (tes tertulis), dan Case Interview (CI) 2 round yang masing-masing terdiri dari 2 sampai 3 interview, jadi total ada 4 – 6 interview. Tes2 ini dilakukan secara rangkaikan, jadi kalo lolos cv baru bisa ikut pst. kalo lolos pst baru bisa ikut CI.

Nah saya dengan congkaknya mulai latihan case interview jauh sebelum PST. Coba bayangkan situasinya, latihan case interview sebelum pst. Orang mungkin berpikir “ya elah, pst aja lu blom tentu lulus, sok banget sih uda latihan case interview”. Waktu itu saya mikir “bodo amet ah, nepsong aja” karena saya tahu betul kalau nunggu lolos pst baru latian case interview, pasti terlambat. So I took the risk, dan malunya juga kalo ternyata ga lolos PST.

Saya rasa juga orang yang latihan case interview paling banyak. Sampe malu ngasi tau jumlah pastinya hahaha.

So, kepercayaan saya termanifestasi dalam usaha yang keras untuk mempersiapkan diri. Sama seperti andylau, saya juga sempet jatuh di usaha-usaha saya itu. Saya kadang ngerasa jadi orang bodoh, latihan case interview bahkan sebelum lolos pst. Saya juga merasa takut bagaimana seandainya semua usaha ini menemui kegagalan, udah usaha nepsong tapi gagal juga. Harga diri mau dikemanain haha. Saya merasa aneh sama diri sendiri latihan banyak banget. Saya juga selalu gagal memcahkan kasus pada saat2 awal latihan, rasanya kok gw goblok banget, cocok ga ya jd konsultan kalo begini caranya.

Namun, walaupun jatuh itu sakit, seharusnya hal itu tidak menghentikan. “Yah kalo tar gagal, malu sekalian gpp deh” begitu pikir saya. Malu karena udah berusaha keras tapi gagal. Malu karena merasa bodoh. Malu sama diri sendiri.

Usaha saya bagaikan usaha andylau yang belajar lari walaupun cacat. Justru karena saya “cacat”, saya berusaha lebih keras. Ibaratnya, kalo orang pinter baca sekali aja lgsg ngerti, tapi karena gw orang goblok, ya gw baca 10x, kalau perlu 20x, supaya bisa nyaingin orang pinter.

Untungnya semua usaha saya berhasil. at the end of the day, walaupun gw bukan orang yang hebat di FEUI, bukan orang yang masuk golongan top tier, gw tetep bisa masuk McK, yang notabene adalah mimpi gw sejak awal. Ini sama seperti ketika andylau berhasil menjadi juara 1 walaupun ia cacat.

Nah, jadi yang mau saya sampaikan adalah, jangan takut bermimpi, percaya bahwa kita bisa meraihnya setinggi apapun itu, dan manifestasikan kepercayaan itu dalam usaha keras. Coba apa jadinya kalau saya berpikir “ah McK hanya milik orang-orang keren, apalah artinya saya”?

Dan yang paling penting, berdoalah. Berdoalah seakan-akan bekerja tidak berguna, dan bekerjalah seakan-akan berdoa tidak berguna (unknown). Karena saya masuk McK, saya percaya itu tidak terlepas dari pekerjaan Tuhan. Mana mampu saya mengandalkan kekuatan sendiri. Dan tulisan inipun saya persembahkan sebagai kesaksian saya atas kebaikan Tuhan yang begitu besar.

Kalau ada yang tanya “yah enak lu sekarang uda masuk McK makanya bisa cerita begini, kalau ternyata lu ga masuk, mau cerita apa lu?”

Saya akan jawab “Yak betul saya bisa cerita begini karena sekarang sudah diterima di McK. Tapi seandainya saya gagal pun waktu itu, setidaknya saya sudah mencoba dan melakukan yang terbaik. Setidaknya di masa depan, saya ga akan pernah menyesal mengapa saya tidak mencoba McK waktu itu. Setidaknya, saya tidak menyerah. Dan dengan begitu, walaupun saya tidak bisa cerita kepada orang banyak, saya tahu bahwa saya setidaknya sudah menjuarai satu hal dalam hidup ini, yaitu pantang menyerah walaupun takut, pantang menyerah terhadap kepercayaan orang lain, dan saya percaya bahwa sikap ini akan membawa kemenangan di kemudian hari.”

~ Aim for the sky, for if you failed, at least you can reach the cloud ~ Unknown

So, That is my giant leap. Tapi judul tulisan ini “My Giant Leaps” kan? ada “s” dibelakang “leap”. Saya baru ceritakan satu. Nah berarti ada yang kedua dong? benar sekali. Dan inilah kisah Giant Leap yang kedua.

Ini membawa saya kepada masa SMA 3, dimana kita harus memilih Universitas.

Saya berasal dari sebuah SMA swasta di jakarta utara, dimana 99,99% siswanya keturunan tionghoa murni 100%, ga ada campurannya hahaha. Kebanyakan orang tua kami juga orang Cina totok yang ngomongnya kurang lebih:

1. duh ngeri ya masuk negeri, nanti kita di diskriminasi

2. udah ngapain sih masuk UI, jauh.

3. Duh kamu nanti naik apa nak ke kampus kalo kuliah di UI, bahaya naik kereta. Kos juga bahaya nanti (lagi2) di diskriminasi.

Saya selama SMA juga bukan termasuk golongan siswa pintar. saya ranking 6, tapi dari bawah hahaha saya peringkat 66 dari 72 (seluruh jumlah siswa IPA). Bokap gw ampe ngomong gini menjelang UAN “eh lu maen komputer mulu, bisa lulus engga tar?”

Tapi, dengan congkak saya pengen masuk UI loh! Oke, biar lebih ngerti konteksnya, dulu pas SMA kita mandang (FE)UI kaya apa sih? coba inget2 lagi.

1. FEUI kampus terbaik seindonesia

2. Cuman siswa pinter top yang bisa masuk FEUI

3. Apalagi gw cina, bisa diterima kaga yah di FEUI. Jangan2 liat foto putih dikit (muka gw maksudnya) langsung dibuang aplikasi gw.

FEUI begitu tinggi, sedangkan saya dibawah berpikir

1. Gw ranking 6 sih, tapi dari bawah

2. Pula bukan di sekolah terbaik se Jakarta

3. Cina lagi.

Tapi ya sekali lagi, ternyata keras kepala + cuek itu sangat membantu loh hahaha. biarpun rasanya kemungkinan masuk FEUI sangat kecil, saya tetep berusaha. Saya ikut bimbingan intensif. Setelah pulang bimbingan pun, saya ngerjain banyak soal.

Pernah jatuh? Tentu pernah. Dulu saya dengan teman saya, sebut aja X, bertanya kepada teman lain, sebut saja Y.

Pertanyaan : Eh, menurut lu kita bisa masuk UI ga yah?

Y menjawab : yah, kalo si X sih pasti bisa, tapi kalo lu bert…. errrr

*jleb #pergibunuhdiri -eh bukan- #pergibunuhorang

Saya merasa terhina, yah tau sih gw bego di SMA, tapi kan ga gitu juga kali ngomongnya haha. Tapi gw menjadikan hinaan itu sebagai cambuk. (okeh, santai mode pake “lu gw” aja ya). Gw malah beriklar dalam hati

“LIAT AJA, GW BUKTIIN KALO GW JUGA BISA MASUK FEUI. DAN SETELAH GW MASUK, LU (Y) AKAN JADI ORANG PERTAMA YANG GW SMS. DAN SETELAH ITU, TARIK KATA2 LU!”

eh, akhirnya gw masuk juga tuh FEUI. bahkan gw yang ga terlalu suka matematika, tapi karena latian terus akhirnya gw bener 24 dari total 25 soal mat di SPMB. dan mungkin harusnya gw bertrima kasih ya ama penghina gw itu, karena dia membuat gw jadi lebih rajin belajar buat SPMB hehe

So, that was my second giant leap. I was no one, but i could achieve very important things in my life, FEUI and McK. dan bukan karena kondisi yang menguntungkan (lihatlah betapa rendahnya kondisi awal saya), tapi karena percaya, usaha, kerja keras, pantang mundur walaupun takut, ga punya malu, dan bedoa.

So, if i have proven it twice, its your turn now. Jangan takut mimpi, mimpi ga bayar kok. Kalo ga kesampean tu mimpi, ya juga cuman elu kan yang tau, jadi ga malu juga. kalo uda mimpi, usahain.

~ Vision without action is daydreaming. Action without vision is nightmare ~

~ Do your part, and let God do His ~

~ How come God help you winning a loterry but you don’t put effort to buy the (lottery) ticket? ~

April 27, 2011

Pluit

Elbert Ludica Toha

follow my twitter at elbert_ludica

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s