Between Me and Them, Facts and Stories

Apakah anda adalah pernah nge-judge diri sendiri berdasarkan omongan orang lain tentang anda? Pernah ga anda menyalahkan diri sendiri ketika ada orang lain yang omong buruk tentang anda, dan anda menganggap omongan buruk orang lain tersebut sebagai kebenaran?

Nah, sebelum buru-buru nge-judge diri sendiri, mungkin anda perlu merenung dulu sebentar. Ini mengantarkan saya kepada kisah pengalaman saya dengan Transjakarta.

Pada akhir tahun lalu, pemerintah DKI Jakarta mulai mengoperasikan busway koridor 9, yang salah satu ujungnya berada di pluit yang disitu juga tempat saya tinggal. Sejak itu, saya mulai menggunakan moda transportasi ini untuk urusan-urusan tertentu.

Nah, sebelum ada transjakarta pluit, moda transportasi utama saya adalah mobil pribadi. Saya sendirilah yang menyetir.

Ada satu pengalaman menarik ketika saya mengamati pola penciptaan kebahagiaan baru semenjak saya menggunakan Transjakarta. Perasaan itulah yang hendak saya bagikan sekarang.

Ketika saya masih mengendarai mobil pribadi, saya selalu benci sama yang namanya macet. Macet buat saya adalah bentuk pembuangan waktu yang sia-sia. Coba saja anda bayangkan berapa lama anda menghabiskan hidup berkutat dengan kemacetan. Kita anggap saja 5 jam perminggu hidup kita habis karena macet. Bayangkan betapa 5 jam itu bisa kita gunakan untuk melakukan hal yang lebih berguna, misalkan bertemu keluarga, belajar, membaca buku, refreshing (nonton dvd, main sama teman, tidur), dan masih banyak kegiatan berguna lainnya.

Selain membuang-buang waktu, juga buang bensin (uang), meningkatkan tingkat stress, menguras tenaga sehingga selewat macet pun produktivitas kita pada aktivitas selanjutnya jadi menurun. Apalagi saya menyetir sendiri!

Singkat kata, saya benci macet. Apalagi kalo sedang macet-macetnya, trus melongok ke jalur sebelah (jalur busway) yang kosong melompong tidak ada kendaraan, wah rasanya iri bener. Selain itu, ada pula kecenderungan untuk menyalahkan busway, “ini pasti gara-gara busway deh jadi macet parah begini, kenapa sih harus ada busway”.

(tapi saya jarang sekali lho mengambil jalur transjakarta hehe walau macet sekalipun)

Namun ketika saya berada di dalam transjakarta, pandangan saya mulai berubah. Saya jadi SENANG kalau pas sedang naik transjakarta, tiba-tiba macet. Rasanya “Yesss, good choice. tuh kan untung ga bawa mobil”, kata saya pada diri sendiri. “Untung ada transjakarta, jadi gw ga perlu berjibaku dijalanan”, demikian kata peneguhan selanjutnya yang lagi-lagi ditujukan untuk diri sendiri.

Singkat kata, jika sedang berada di transjakarta, saya jadi senang dengan macet. Saya malah berharap jalanan macet ketika sedang membeli tiket di halte. Macet kok disukai?… tapi ya begitulah….

Ada perubahan cara pandang dan paradigma terhadap dua hal

1. terhadap kemacetan itu sendiri, saya membencinya ketika saya mengendarai mobil, namun saya menyukainya kalau saya berada di Transjakarta

2. terhadap Transjakarta, saya cenderung memakinya ketika sedang bermacet ria di dalam mobil pribadi, tapi saya cenderung mengapresiasinya ketika saya sendiri berada dalam Transjakarta.

Macet adalah fakta, perasaan saya terhadap macet tersebut adalah opini, sebuah reaksi atas fakta. Keberadaan Transjakarta dalah fakta, perasaan saya terhadapnya adalah lagi2 opini, sebuah reaksi natural atas fakta tersebut.

Yang menarik adalah, terlepas dari fakta, opini kita dapat berbeda 180 derajat tergantung dimanakah posisi kita berdiri, dari sudut manakah kita memandang.

Sebetulnya hal ini berlaku pada banyak hal dalam hidup sehari-hari, namun ijinkan saya berfokus pada satu hal saja pada kesempatan ini. Kalau kita bawa hal ini ke tatanan awal pembukaan cerita saya, bolehlah saya mengatakan bahwa kepribadian dan segala tingkah laku kita adalah fakta, pandangan dan perasaan orang lain terhadap diri kita adalah opini, sebuah reaksi atas kita apa adanya.

Nah, harusnya sekarang kita belajar, terkadang yang bermasalah bukan “fakta”-nya, bukan kepribadian kita atau tingkah laku kita, melainkan yang salah adalah sudut orang memandang kita.

Jadi, kalau anda orang yang benci anda, jgn buru2 merendahkan diri sendiri. Siapa tau memang kalau dari posisi dia, sudut pandang yang di dapat memang kurang ramah terhadap anda. Jarang kan orang fotogenik.

Lagipula, pandangan orang terhadap kita dibentuk berdasarkan pengalaman yang ia peroleh ketika bersama kita. Dan sedihnya, pengalaman itu terpotong-potong karena kita ga bersama orang tersebut sepanjang waktu kan. Jadi satu orang melihat satu potong pengalaman terhadap orang lain. Wajar saja kalo opini yang terbentuk tidak mewakili keseluruhan sifat anda.

Masih ingat sebuah pepatah yang mengatakan demikian?

” Jika ada satu dari sepuluh orang tidak suka kepada anda, mungkin orang itu gila.

Jika ada tiga dari sepuluh orang tidak suka kepada anda, abaikan saja mereka.

Jika ada lima orang dari sepuluh orang tidak suka kepada anda, anda perlu mulai berhati-hati.

Jika tujuh dari sepuluh orang tidak suka kepada anda, maka sebaiknya anda mulai introspeksi diri.

Jika sepuluh dari sepuluh orang tidak suka kepada anda, maka mungkin andalah yang gila.”

Jadi, kalau nanti kamu tahu bahwa ada sejumlah temanmu yang omong buruk tentang kamu di belakangmu, bagaimana sebaiknya sikap anda? Yak, jawabannya adalah “santai aja”. Tak perlu buru-buru ngejudge diri sendiri, ataupun balik membenci dia dan berkata-kata yang buruk tentang dia.

Jika kita bawa ke tatanan yang lebih tinggi dan umum, kira-kira kesimpulannya adalah – fakta itu tidak terlalu penting. yang paling penting adalah cerita yang orang tangkap dibalik fakta itu. yang paling penting adalah cerita yang mereka katakan kepada diri mereka sendiri terkait fakta itu. dan cerita tersebut sangat bergantung dari sudut mana mereka memandang.

Lagipula “Kalau kita berusaha menyenangkan semua orang, semua orang akan mencintai kita, kecuali diri kita sendiri” – unknown

Elbert Ludica Toha

April 15, 2011

Pluit

follow my twitter at elbert_ludica

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s