Failures and Its Compelling Beauty

Cerita ini dibuat untuk orang-orang yang sedang mengalami kegagalan di luar sana, yang sudah gagal dan ingin menatap keindahan kegagalan di masa lalu, maupun sebagai persiapan menghadapi kegagalan di masa depan.

Saya hendak menceritakan pengalaman saya dengan seorang teman. Inti tulisan ini adalah pada pengalaman yang saya alami, bukan subjek maupun objek dari cerita ini. Jadi, sangat indah dan menenangkan kalau ketika membaca cerita ini anda tidak mencari-cari tahu siapakah “dia” yang saya maksud dalam cerita ini.

Saya baru saja mengobrol dengan seorang teman yang sedang down dan terpukul berat karena ia baru saja gagal dalam tes P&G. Tes tersebut ia ambil sebagai bagian dari requirement P&G jika ingin mengikuti P&G business challenge.

Dalam ceritanya, ia berkata bahwa acara yang satu ini sangat ia inginkan, karenanya ia begitu sedih mengetahui bahwa ia tidak lolos babak berikutnya. Dan yang paling unik adalah, dia gagal bukan karena tidak memenuhi standard P&G, namun kerta tes-nya terselip! Jadi P&G menganggap teman saya ini tidak mengikuti keseluruhan rangkaian tes dan dinyatakan gagal.

dan yang lebih menyesakkan adalah, dia sudah berdoa dan berusaha maksimal, tapi gagal-nya malah konyol begitu. Yg dimaksud dengan doa dan usaha maksimal tentu tidak perlu saya jelaskan secara detail disini.

nah, berapa dari kita yang pernah mengalami kegagalan serupa? gagal pada hal-hal yang sangat kita inginkan, gagal ketika kita sudah berusaha maksimal dan berdoa (juga) maksimal, gagal dengan konyol.

Bagi yang sedang mengalaminya di luar sana, yang sedang terpukul berat karenanya, saya hendak membagikan pengalaman pribadi saya mengenai pengalaman ini.

Saat itu, ada sebuah acara yang dinamakan Young Leaders for Indonesia (YLI), yaitu acara pelatihan kepemimpinan yang digagas oleh McKinsey & Company yang dimana adalah salah satu perusahaan konsultan manajemen terkemuka di dunia. Saya punya keinginan besar untuk masuk McKinsey. Nah jadi terbayang engga gimana kalo perusahaan impian anda mengadakan acara, plus acara tersebut sangat bagus pula. Saya seperti halnya orang lain, jadi pengen banget (kalo ga bisa disebut nafsu) untuk ikutan YLI. “Siapa tahu bisa lebih ‘dekat’ ke McKinsey”, demikian pikir saya.

Ketika itu, calon partisipan akan di seleksi melalui essay dan CV. Saya menyiapkan dengan baik sekali kedua hal tersebut, sampai saya konsultasi dengan orang terpercaya, berkali2. Essay dan CV saya berkali-kali pula di revisi. Akhirnya, duedate pengiriman pun tiba, saya berbekal CV dan essay yang ibaratnya udah “bulletproof” pun PD ngirim ke alamat email yang telah ditentukan.

Singkat cerita, saya gagal! Waktu itu saya sangat down. Di satu sisi, saya sedih tidak bisa ikutan acara yang sangat saya inginkan. Di sisi lain, ada perasaan yang berbunyi kira-kira seperti ini “Lu ga masuk YLI, lu emang ga bisa mimpin berarti. lu bukan leader. lu payah”. Saya sedih. Saya merasa dunia ga adil karena saya tahu bahwa saya sebenernya capable in terms of leadership. Leadership saya tidak kalah dengan orang2 yang keterima YLI. It was a bitter experience.

Dalam masa-masa pahit itu, suatu malam saya berteriak kepada Tuhan, “MENGAPA?”. Dan ajaibnya, saat itu juga Tuhan berbicara lembut dalam hati saya “karena memang jalanmu bukan di YLI anakku. Aku telah menyiapkan jalan lain bagimu untuk kau jalani”.

Saya yakin betul itu bukan perasaan saya, maupun mekanisme penghiburan diri yang mengatakan hal demikian. Bagaimana saya bisa tahu? yah saya kira itu tidak perlu dibicarakan disini hehe lagipula mungkin saya malah dianggap gila oleh orang-orang yang skeptis terhadap Tuhan.

Melanjutkan cerita, perasaan saya seketika itu juga merasa tenang, damai, tidak lagi down, tidak lagi sedih. Ajaib! semua perasaan negatif itu lenyap. Lalu apa yang terjadi pada kehidupan saya selanjutnya? yah berjalan biasa-biasa saja. saya waktu itu hanya merasa tenang, tapi belum mengerti “jalan lain” mana yang Tuhan maksud.

Sekarang, sudah 2 tahun sejak saya di tolak YLI. Ketika diingat-ingat sekarang, saya baru sadar “jalan lain” mana yang Tuhan maksud. Kalau saya ikut YLI, saya tidak akan mempunyai waktu untuk ikut Loreal Brandstorm, dan kemungkinan besar saya akan menolak menjadi KI JGTC33 (yah karena alasan yang sama : sibuk, sibuk kuliah dan sibuk YLI – karena YLI juga ada proyek2 gitu yang harus dikerjain disamping seminar). fyi, JGTC merupakan jazz festival, yang notabene acara mahasiswa terbesar di FEUI – atau mungkin malah di dunia? hehe Sedangkan brandstorm adalah lomba marketing besar dan ternama.

Padahal, di kedua acara tersebut lah saya belajar leadership yang asli, ilmu leadership jalanan yang sangat practical, mengena, dan sangat penting yang saya yakin tidak akan diajarkan pada seminar manapun, termasuk seminar YLI.

Saya pikir saya mau belajar leadership dari YLI, tapi ternyata Tuhan menghendaki saya belajar leadership bukan dari mendengar dan melihat, namun dengan mengalami langsung! Mengalami langsung berada pada posisi leader.

Jika anda ingin tahu pengalaman leadership apa yang saya pelajari dalam JGTC, silahkan lihat notes saya yang berjudul “Something noteworthy about JGTC”. Disana saya share apa2 saja yang saya pelajari selama menjadi KI JGTC. It’s priceless!! ( http://www.facebook.com/note.php?note_id=458852165403 )

Pengalaman leadership saya di brandstorm? also priceless!!. Saya akan share di lain waktu dan kesempatan.

Ketika kita gagal, orang sering bilang “yah Tuhan punya kehendak lain yang lebih baik bagimu”. Ternyata nasihat tersebut nyata adanya.

Nah mungkin ketika kita tepat pada titik kegagalan, kita ga akan bisa melihat apa “maksud lain” Tuhan. Tapi kalau kita mau bersabar dan menunggu, mungkin 6 bulan, mungkin 1 tahun, atau mungkin 10 tahun, kita akan melihat betapa indah “rencana lain” tersebut.

Seperti perkataan seorang frater yang saya kenal, Jika anda ingin melihat kebaikan Tuhan, lihatlah hidup anda kebelakang, bukan ke depan.

Pada saat waktunya sudah cukup lama dan jaraknya juga cukup jauh bagi kita untuk melihat kegagalan kita dibelakang, kita akan melihat kegagalan tersebut dengan segala keindahan yang terkandung di dalamnya.

Nah jadi sekarang anda sudah tau kan bagaimana harus bersikap ketika anda tidak diterima kerja di perusahaan impian, kalah dalam lomba, dan berbagai kegagalan lainnya. lalu kalau ditanya, apakah saya sudah bisa tenang ketika menghadapi kegagalan? saya akan jawab :

“Puji Tuhan…. belum”

 

Elbert Ludica Toha

Pluit

Maret 22, 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s