Get Rid of Envy Now!

Beberapa waktu lalu, ada seorang teman yang menulis tentang perasaan iri, cemburu, atau dengki terhadap kesuksesan orang lain, atau biasa kita sebut envy. Nah saya jadi tertarik untuk berbagi pandangan mengenai hal ini.

Apa yang anda rasakan ketika anda mendengar kabar bahwa teman anda baru saja menjuarai kompetisi internasional atau kompetisi bergengsi lainnya? biasanya perasaan terbagi menjadi 2 kutub yang sangat berlawanan, yaitu

1. perasaan turut bahagia

2. namun ada pula perasaan sebel kenapa sih bukan kita yang menang, perasaan iri kenapa orang lain hebat banget sedangkan kayanya kita (merasa) ga pernah menang apa-apa. atau kalaupun menang kok ya kompetisi kecil-kecil aja gitu (wow, i am very good at explaining this feeling, menandakan gw juga sangat sering tertimpa perasaan ini haha)

Jarang sekali orang merasakan yang pertama dengan 100% tulus hati. Walaupun jarang pula orang yang merasakan perasaan kedua dengan sepenuhnya (kalo iya sih berarti orangnya emang ga punya rasa empati). Perasaan kita pasti tercampur, sama seperti bentuk persaingan pasar yang selalu berada di antara perfect competition dan monopoly. Cuman mungkin ada yang cenderung ke bahagia, ada pula yang cenderung ke ngiri tergantung bagaimana hubungan kita dengan di pemenang tersebut. Kalo hubungannya rival, pasti gondok setengah mati hahaha.

Nah sedari kecil, kita diajarkan untuk tidak boleh merasa iri. Kita sadar sepenuhnya kalau kita tidak boleh merasa cemburu atas keberhasilan orang lain, tapi CARANYA bagaimana? Kita tak pernah diajarkan cara untuk bersikap tidak iri, kita tidak diajarkan bagaimana melawannya jika perasaan tersebut muncul.

Untuk mengalahkan perasaan ini, kita harus mengenal lebih detail apa sih makhluk ini. Iri berarti kita menginginkan “keberuntungan orang lain”, dan karena kita (merasa) tidak bisa mendapatkannya, kita jadi sebel kalo orang lain yang dapet.

Kalau ditilik lebih jauh, iri berarti kita sebel karena orang lain lebih hebat. pandangan ini muncul karena kita memandang orang lain di atas, sedangkan kita sendiri (merasa) dibawah. Ketika orang lain sukses, semakin tinggilah orang tersebut meninggalkan kita dibawah, makanya kita sebel.

Jadi, kalau mau menghilangkan rasa iri kita harus punya pandangan bahwa orang lain sejajar dengan kita, tidak di atas maupun dibawah walaupun dengan semua kesuksesan yang orang lain dapatkan.Caranya ya meningkatkan persepsi diri sendiri, atau “menurunkan” persepsi kita terhadap orang lain. Dengan begitu, kita menjadi percaya diri, tidak sombong, apalagi iri. Apa yang mau diiriin wong levelnya sama (walaupun orang lain menang atau sukses).

Nah saya juga salah satu orang yang sering merasa iri *ngaku dosa*. Menariknya, ada saat-saat tertentu dimana saya mampu “tidak merasa iri ataupun cemburu” dengan prestasi orang lain, dan kalau saya ingat-ingat, kira2 jadi seperti ini:

1. Saya merasa kebal terhadap iri ketika saya bangga dengan diri saya sendiri. Jadi kira bunyinya seperti ini : “Situ boleh juara, tapi gw JGTC loh”. So, gw menempatkan diri setara sama “si pemenang” atau “si juara” (ingat, tidak lebih tinggi ya karena nanti kalo bablas jatohnya malah sombong)

rasa bangga juga bisa di dapat ketika kita mendapat pujian dari orang lain. Anda pasti pernah dipuji kan? masih ingat rasanya? Pujian lebih efektif kalau diberikan oleh orang yang kita respect terhadapnya.

Jadi, inti pesan saya adalah be proud of yourself, get confidence. You sometimes need to hear praise about yourself from other people. Confidence is effective panacea for envy. When you feel confidence, you see others high, but also yourself high, so you and them in the same height, and the envy will get away from you.

2. Saya tahu satu orang yang merupakan figur sukses di kampus FEUI. Namun demikian, saya kebetulan juga tahu cerita-cerita kegagalannya. Dan yang menarik adalah jumlah kegagalannya hampir sama dengan jumlah suksesnya. Wow!

Jadi setiap dia sukses, saya selalu ingat kegagalan dia, membuat saya berpikir ia bukanlah God-like yang selalu berhasil, melainkan manusia yang punya kualitas mental tinggi sehingga ia terus mencoba walaupun pernah gagal. dan bahwa skill bukan satu-satunya fungsi dari keberhasilan, melainkan ada hoki juga disitu, ada kesempatan, ada keadaan, ada situasi lingkungan, ada “emang udah jalannya”. Kegagalannya menyadarkan saya bahwa ia bukan manusia super, ia hanyalah manusia yang keras kepala untuk menyerah. Dia punya banyak prestasi karena ia mencoba terus!

Jadi resep utamanya adalah: banyak prestasi karena banyak mencoba. Dan banyak pula dari kegiatan “mencoba”-nya yang menemui kegagalan.

Saya cukup beruntung untuk mengetahui kegagalannya, tapi seringkali dunia ga sebaik itu. Mostly, kita melihat kesuksesan orang tanpa tau kalo dia pernah gagal dan apa saja kegagalannya SEDANGKAN kita melihat keberhasilan kita dan kegagalan kita (jelas saja wong kita yang ngalami jadi kita pasti tahu betul perjuangan diri sendiri). Itulah yang menyebabkan kita merasa rendah diri, karena kita berpikir “wah dia kok berhasil trus ya, saya dikit-dikit gagal”. yah lu cuman ga tau aja kalo orang yang lu cemburuin itu juga “dikit2 gagal”.

Masih ingat cerita Abraham Lincoln dalam notes saya sebelumnya? Setelah melihat daftar kegagalan dan kesuksesannya, semakin jelas dia bukan orang yang God-like ampe bisa jadi presiden, dia hanya keras kepala untuk menyerah

Pasti tahu kan cerita legendaris Thomas Edison ketika menemukan lampu, nyoba ribuan kali sebelum berhasil itu namanya bukan genius, tapi keras kepala (dalam arti positif) sampe hoki menghampiri dia.

Bukannya saya menganggap enteng prestasi orang-orang tersebut, tapi ternyata resep prestasi itu banyak mencoba, bukan hebat. Nah orang jadi hebat karena terus mencoba hehe

3. Percaya atau tidak, selalu, saya ulangin sekali lagi, SELALU ada orang yang lebih hebat dari kita. Jadi ngapain pusing ngeliat orang yang lebih hebat? Kalau kita ngeliat ke atas trus, jadinya iri. Tapi kalo liat kebawah terus, jadinya sombong atau lebih parahnya jadi tidak maju2 karena merasa aman ada yang lebih “goblog”.

lagipula, orang yang anda ngiri-in saya jamin juga ngiri sama orang yang dia anggap lebih hebat dari dirinya. atau malah2 dia diam2 juga ngiri sama anda? haha

Daripada pusing mikirin orang lain, mending mikir diri sendiri -anda sudah lebih baik belum dari kemarin?

4. Kalo software gadget saya bermasalah, saya hampir selalu bisa menemukan penyebabnya dan mampu memperbaikinya sendiri. Nah, ada orang-orang tertentu yang emang ga hoki ama peralatan elektronik, masalahnya segampang apapun dia ga bisa nemuin.

Ada orang-orang yang kalo judi HAMPIR SELALU menang (gw tau orangnya siapa), nah ada juga kemarin temen gw yang cerita dia kalo judi SELALU KALAH. Nah judi apa skillnya coba? Itu namanya hoki.

Dan ada pula orang-orang yang selalu menang kalau ikut lomba, dan kalau orang itu bukan anda, berarti anda ga punya hoki lomba. Jadi santai aja, kalau anda ga menang-menang, ya mungkin bukan hoki anda disitu. Itu hokinya orang yang “always win”. Mungkin hoki anda sebenernya di dagang (mangga-dua like)? ga ada kan lomba dagang di kampus? haha atau hoki anda sebenernya jadi ibu rumah tangga? ga ada kan lomba menjadi ibu rumah tangga yang baik? haha jadi simply mungkin waktu dan kesempatan anda belum tiba untuk anda bisa membuktikan diri 🙂

menang bukan selalu berarti anda (atau orang lain) superior, sama halnya kalah tidak berarti anda (atau orang lain) bodoh. cuman ga hoki aja hehe keadaan tidak pas.

Istilah bisnisnya, sebuah perusahaan itu tidak bisa sukses cuman dari competitive advantage, tapi keadaan sekitar juga harus mendukung kaya market competitiveness, barrier to enter the industry (dan semua elemen 5 porter forces model, you name it), atau situasi STEEP (Social Technological Economic Environment Politic). Kalau semua hal ini mendukung, baru perusahaan bisa sukses besar.

Jadi saya ringkas ya empat langkah yang bisa digunakan untuk mengusir envy:

1. Be proud of yourself, get confidence. You sometimes need to hear praise about yourself from other people. Confidence is effective panacea for envy. When you feel confidence, you see others high, but also yourself high, so you and them in the same height, and the envy will get away from you.

2. Realize that you only see others’ success while you see yourself both when you success and FAIL. so, beside others’ success, you also need to address their failure. One person i know has “more-than-10-pages CV”, but i also happen to know that his failures are just as much as his success, this is real.

3. Sometimes we need to be dont-care person, stop looking people above us neither below us. look to yourself, are you better than yesterday? for that is the most important matter.

4. Believe that everyone has their own luck 🙂 and not winning doesn’t always mean you are inferior, as well as winning doesn’t always mean others are superior

Habis nulis ini, bukan berarti saya terbebas dari rasa iri. tapi mari kita melatih diri bersama-sama, supaya suatu hari kita bisa terbebas dari belenggu iri, karena iri adalah dosa yang paling ga enak. Kalo dosa lain kan pas dilakukan rasanya enak, kalau merasa iri tuh menderita loh, plus dosa lagi, haduh2. yang penting latihan setiap hari, biar hati kita lam2 tambah kuat, tambah tulus, ga terganggu iri lagi. Karena kalau tidak begitu, kita bakal didera rasa iri seumur hidup, karena kesempatan untuk mengiri tak ada habisnya sepanjang hidup. Iri terhadap pekerjaan, kekayaan, superioritas anak orang lain, pasangan hidup, wah macem2 deh.

Nah semoga ini berguna bagi anda. Perasaan iri tersebut mungkin tidak lenyap begitu saja, namun anda bisa menggunakan cara ini berulang-ulang setiap kali ia datang.

 

Elbert Ludica Toha,

Maret 3, 2011

At Starbucks Emporium Pluit

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s