Lesson about Endurance from 2 KM run

Anda tahu Treadmill? Mesin yang dapat membuat orang berjalan atau berlari di tempat digunakan untuk mengolah raga. Beberapa dari anda bahkan mungkin pengguna aktif, baik di rumah maupun di tempat gym.

Nah kebetulan saya juga punya mesin tersebut di rumah dan beberapa kali dalam seminggu saya menggunakannya untuk berlari. Setiap berlari saya memiliki target jarak yaitu dua kilometer yang biasa saya selesaikan selama kurang lebih 20 menit. Ada pengalaman menarik yang terjadi setiap kali saya menggunakan mesin ini, dan pengalaman sepanjang 2 km itulah yang hendak saya bagikan sekarang.

KM 0,3

Yang namanya baru mulai lari pasti saya masih seger dong. Pada tahap ini fisik masih dalam kondisi prima dan karena lelah belum menghampiri, saya pun masih optimis bisa menyelesaikan 2 km dengan mudah. “piece of cake”lah kalo bahasa sombongnya.

KM 0,5

Pada tahap ini, badan sudah mulai merasa lelah namun masih ada 1,5 KM lagi untuk diselesaikan. Bayangkan perasaan saya pada km 0,5. Rasanya sudah mulai lelah tapi kok saya baru menyelesaikan 1/4 perjalanan ya… masih ada 3/4 perjalanan lagi yang artinya masih ada 3 kali lipat kelelahan yang sekarang!

Pada saat ini saya merasa ragu dapat berlari sampai 2 kilometer dan menahan rasa lelah 3 kali lipat dari yang sedang saya rasakan. Namun demikian, keraguan tidak menghentikan saya karena malu dong. Dan lagi seperti dihakimi “mudah menyerah” oleh diri sendiri kalau lari cuman 500 meter.

KM 1

Akhirnya saya berhasil bertahan sampai kilometer 1, yang artinya saya sudah setengah jalan! Saya semakin lelah, dan rasanya semakin pesimis kalo masih harus menanggung lelah 2x lipat dari yang sudah saya rasakan. Untuk berhentipun rasanya sudah ga malu-maluin lagi (buat ukuran diri sendiri ya hehe). “Udah lumayan jauh lah” begitu kata saya kepada diri sendiri.

Namun hipotesis saya adalah perasaan ingin berhenti dan rasa pesimis adalah produk pikiran, yang artinya sebenernya fisik saya kuat kok untuk melanjutkan lari sampai 2 km. Cuman karena pikiran aja jadi seolah-olah merasa ga kuat.

Berangkat dari hipotesis tersebut, saya mencoba mengalihkan pikiran dengan mendengarkan musik yang nge-beat atau nonton dvd yang seru.

KM 1,6

Walaupun sambil nonton dvd atau mendengarkan musik, tetap aja perasaan lelah kadang menyelinap masuk dalam perjalanan 600 meter saya dari km 1 sampai km 1,6. Tapi, asalkan saya mau mendisiplinkan pikiran, yaitu dengan kembali fokus ke dvd atau musik setiap perasaan lelah menghampiri, maka akhirnya saya tetap bertahan.

Pada jarak ini, masih ada 400 meter yang harus saya jalani. Walaupun pastinya makin cape, tapi karena ini 400 meter terakhir saya jadi semangat. Yang ada dipikiran cuman “Yes tinggal 400 meter lagi, tinggal dikit lagi nih! Tinggal seperlima perjalanan lagi “. Muncul perasaan (akan) berhasil. Saya kembali optimis.

KM 2

“Yes! selesai juga akhirnya dan target terpenuhi”

Dalam cerita di atas, ada perubahan perasaan sepanjang perjalanan saya dari awal sampai akhir yaitu

1. Optimis

2. Pesimis

3. Optimis

Hal yang demikian tidak hanya terdapat pada perjalanan 2 km saya, namun juga pada kejadian sehari-hari ketika saya mengerjakan sesuatu hal (proyek).

Sesuatu hal pada tahap awal biasanya masih mudah. Disini tantangan yang muncul masih mudah dihadapi dan biasanya kita memperoleh “beginner’s luck”. Misalkan kita mempunyai sebuah ide bisnis dan kita bertekad mencari investor untuk membiayai bisnis tersebut. Kita pasti dengan senang hati datang ke investor awalnya, karena kita masih berada pada KM 0,3 dalam perjalanan 2 km.

Semakin jauh kita berjalan, tantangan yang muncul akan semakin berat. Selain tantangannya menjadi berat, perasaan kitapun kadang memberatkan. Misalkan awalnya kita sudah datang ke tiga investor dan ditolak! Tantangannya sekarang adalah tiga investor potensial sudah menolak, kita bahkan sekarang harus membujuk investor yang dikategorikan “kurang potensial”.

Pikiran/perasaan apa yang muncul pada umumnya? Ada beberapa kemungkinan

1. “Yang potensial aja nolak, apalagi yang ini”

2. “Haduh udah ditolak 3x, apa emang ide bisnis saya kurang bagus ya”

3. “Apa saya batalkan aja ide bisnisnya, kayaknya emang ga bisa jalan”

Saat ini, kita berada pada KM 0,5

Namun apa yang kita pelajari dari cerita lari 2 km? bahwa dorongan yang membuat kita berhenti hanyalah sebatas perasaan. Ngomong “Pak, saya minta duit dong” (sederhananya) masih tetap pekerjaan mudah yang bisa kita lakukan. Yang susah adalah pikiran kita, rasanya sudah “malas” cenderung untuk quit saja. Terkadang mengerjakan sesuatu hal terasa berat bukan karena pekerjaannya, tapi karena pikiran kita terhadap pekerjaan tersebut.

Karena itu hanya sebatas pikiran, yang harus kita lakukan adalah berusaha mengalihkan fokus, atau bahkan yang paling gampang adalah ga usa mikir sama skali! langsung aja bablas jalanin trusss!

Dengan demikian, semoga kita bisa bertahan sampai KM 1,6

Dari sini perjalanan akan “terasa” lebih mudah karena setelah melalui masa-masa gelap (walaupun kenyataannya bisa aja malah lebih susah), biasanya kita mulai melihat titik terang di ujung sana. Perasaan-perasaan yang menguatkan mulai muncul seperti “wah ternyata yang saya kerjakan ga sia-sia”, atau mulai membuahkan hasil dan sebagainya.

Jadi pesan utama apa yang hendak saya share? ketika kita merasa ga mampu atau ga kuat mengerjakan sesuatu, kadang itu cuman perasaan aja. Sebenernya kita mampu dan kuat. Yang perlu kita lakukan hanyalah seperti slogan kampanye parpol “Lanjutkan!”, tanpa perlu berpikir dan tanpa perlu merasa.

Dan kalau kita bisa bertahan, mungkin kita bisa jadi seperti orang-orang ini šŸ™‚

Abraham Lincoln didn’t quit

A common list of the failures of Abraham Lincoln (along with a few successes) is:

  • 1831 – Lost his job
  • 1832 – Defeated in run for Illinois State Legislature
  • 1833 – Failed in business
  • 1834 – Elected to Illinois State Legislature (success)
  • 1835 – Sweetheart died
  • 1836 – Had nervous breakdown
  • 1838 – Defeated in run for Illinois House Speaker
  • 1843 – Defeated in run for nomination for U.S. Congress
  • 1846 – Elected to Congress (success)
  • 1848 – Lost re-nomination
  • 1849 – Rejected for land officer position
  • 1854 – Defeated in run for U.S. Senate
  • 1856 – Defeated in run for nomination for Vice President
  • 1858 – Again defeated in run for U.S. Senate
  • 1860 – Elected President (success)

KFC Story

Colonel Harland D. Sanders was born in 1890, on a farm near Henryville, Indiana. When he was six years old, his father died. His mother then had to work as a seamstress while he cared for his younger brother and sister. It was during that time that his mother taught the young boy the art of country cooking.

Not long after his mother remarried, 12 year old Harland quit school, moved out of his family house and started the first of his many jobs that included farmhand, railroad conductor, fireman, insurance salesman, steamboat operator and much more. Eventually, Sanders opened a successful service station from which he fed travellers his specialty Ɛ fried chicken at a single table with six chairs.

It seems as though adversity was a constant companion of Sanders. In 1939, his rapidly growing business was burned to the ground. Undaunted, Sanders built another restaurant and motel with a new twist. Anyone wishing to use the pay phone or ladies restroom had to actually walk through a replica of one of his motel rooms. This room-sized advertisement help keep his motel business thriving.

By the time Sanders was earning a comfortable living, another disaster struck. A new highway bypass carried away most of his customers. Business soured quickly, and Sanders was forced to sell his business at an auction. The proceeds were just enough to cover his debts.

Harland Sanders was already 66 years old and had nothing to show for nearly 55 years of labour. Rather than sit back and collect social security, he was determined to find another market niche. His most valuable asset was his secret recipe, which he called Kentucky Fried Chicken. By 1956, Sanders was able to convince about a dozen restaurants to make and sell his chicken and pay him a 4-US cent royalty on each piece they sold.

Buoyed by his modest success, Sanders packed his 1946 pickup truck with a 50 pound band of seasoning and a pressure cooker and took to the road to sign up more Franchisees. By 1960, 400 restaurants in the United States and Canada were cooking Kentucky Fried Chicken. Within four years, the number of outlets approached 650 and annual sales reached US$37 million.

Today there are nearly 10,000 Kentucky Fried Chicken restaurants worldwide with more than 200,000 employees and annual sales in excess of US$8.2 billion.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s