The Journey of Mind(3): Mental Bobrok

Saya merasa kasian sama presiden kita. mengapa? karena setiap elemen bangsa ini melakukan kesalahan (apalagi yang terkait bobroknya mental) selalu dia yang disalahkan. Dibilang mental korupsi lah, gagal memenuhi janji lah, harus bersih lah, dan masih banyak lah lah lah yang lain.

Tulisan ini bukan untuk membela sang presiden, melainkan hanya untuk mengajak pengkritik2 aktif ini introspeksi diri.

Beberapa tahun lalu, seorang dosen saya pernah berkata bahwa sebenernya pengkritik dan yang dikritik sama saja. Mahasiswa teriak “BERANTAS KORUPSI” kepada pejabat. pertanyaannya, apakah mental mahasiswa lebih baik dari pejabat? Jika kita sebatas melihat bahwa pejabat makan duit miliaran sedangkan mahasiswa tidak, maka kesimpulan paling logis adalah pejabat lebih bejat dari mahasiswa. Namun, tidak demikian kenyataannya.

Mental mereka SAMA BOBROKNYA. yang membedakan tingkat kejahatannya hanyalah KESEMPATAN. Mahasiswa tidak mempunyai kesempatan korupsi miliaran, jadi wajar saja mereka tidak korupsi, wong tidak bisa! Pejabat punya. Kesempatan apa yang mahasiswa punya? TITIP ABSEN! Nah kalau mahasiswa mau meneriakkan anti korupsi, ada baiknya mahasiswa tersebut juga menunjukkan sikap yang baik dengan tidak berbuat jahat dengan kesempatan yang mereka punya, alias belajar untuk tidak nitip absen. kalau mahasiswa masih nitip absen, alias menggunakan kesempatan yang ada untuk keuntungan diri sendiri, apa bedanya mereka dengan pejabat yang mereka maki? tidak beda bukan?

Lalu masalah Gayus keluar dari tahanan. Masyarakat mencaci maki polisi. nah apakah si pencaci ini lebih baik dari yang dicaci? Oke untuk membuktikannya jawablah pertanyaan berikut : apakah anda masih menyogok polisi ketika anda ditilang? ataukah anda sudah berlaku baik dengan meminta slip tilang? kalau anda masih menyogok, anda tidak lebih baik dari yang anda caci maki. mental anda juga bobrok.

Yang mau saya sampaikan adalah keprihatinan saya atas bangsa ini yang melulu melihat kesalahan pada orang lain, tapi jarang introspeksi diri.

Bukan berarti tidak boleh memberitakan apapun tentang kejelekan bangsa ini. Kontrol sosial memang harus ada. Masalahnya saya melihat rakyat2 bangsa ini mencaci maki orang bukan demi kontrol sosial lagi, alias sudah tidak proporsional.

Bangsa ini adalah bangsa yang suka mengeluh dan menuduh, berharap orang lain berubah TANPA pernah mencoba merubah diri sendiri. no offense, just my subjective opinion.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s